tatang-sepur klutuk dan pemandangannya rawa pening di ambarawa

Hanya Tiga di Dunia, Hanya Bisa Jalan Kalau Pakai Bahan Bakar Bonggol Kayu Jati

Bodinya hitam, kokoh, tua, dan antik. Dari dekat, asap pekat terlihat membumbung tinggi mengepul ke langit. Tiba-tiba, suara nyaring terdengar jelas. Tutttttt…… Ya, itulah sepur klutuk berlokomotif uap B2502 yang bersiap melaju dari Museum KA Ambarawa menuju Stasiun Tuntang sejauh 6 KM.

Berikut laporan wartawan Radar Banyumas, Tangkas Pamuji, yang ikut dalam rombongan PT KAI Daop 5 Purwokerto ke Stasiun Ambarawa, Semarang, Kamis (28/3).

Kamis pagi suasana Museum KA Ambarawa lengang. Terlihat dua tiga orang pengunjung. Melewati pintu masuk, tiba-tiba terdengar suara tuttttttt panjang…Ternyata, suara berasal dari sisi dalam Museum KA Ambarawa. Suara yang lagi-lagi berulang itu terdengar sangat khas. Membuka memori seperti mendengar suara KA jaman penjajahan Belanda, Jepang.

Ya, Ya, itulah kereta wisata Ambarawa berjuluk ‘sepur klutuk’ berlokomif B2502. Kereta Api (KA) yang pada jaman dulu disebut sepur itu memang bersiap menapaki rel tua yang terlihat usang tapi terawat di Museum KA Ambarawa. Tak berapa lama, suara itu akhirnya menampakan wujudnya, dan keluar mendekat ke arah rombongan dari salah satu gudang tua tempat penyimpanan Lokomotif di Stasiun Ambarawa.

Radarmas lalu naik ke dalam gerbong penumpang yang siap ditarik sepur klutuk tersebut. Semua jendela gerbong penumpang terbuka. Wisatawan yang naik dalam sepur klutuk itu pun bisa melihat pemandangan alam yang disediakan Tuhan Yang Maha Esa di bumi pertiwi ini. Tak lama kemudian, sepur klutuk merambat menyusuri rel.

Dalam perjalanan, nyaris di sisi kanan dan kiri terpampang indahnya pemandangan Rawa Pening yang tersohor dengan mitos mistiknya itu. Hamparan air yang begitu luas disuguh dengan berbagai perahu pemancing yang mengais ikan di bawah hamparan daun enceng gondok.

Tak cuma itu, Rawa Pening itu juga berlatar belakang Gunung Merbabu yang begitu indah menjulang memadati angkasa. Berbagai burung juga terlihat beterbangan di atas Rawa Pening.

Di dalam perjalanan, Radarmas ngobrol dengan salah satu petugas di PT KAI Daop 4 Semarang. Dia adalah Sri Wahono, pendamping rombongan, sekaligus pembantu Kepala Stasiun Ambarawa, yang ikut di dalam sepur klutuk itu. Sri menjelaskan, asap pekat membumbung tinggi berasal dari proses pembakaran bonggol kayu jati.

Kata dia, sepur klutuk berlokomotif B2502 ini hanya bisa jalan bila pembakarannya pakai bonggol kayu jati.

“Pernah dicoba pakai kayu apapun (selain kayu jati), tapi loko tidak bisa jalan. Mulai dari kayu kelengkeng hingga kayu lain. Loko ini hanya bisa jalan dengan pembakaran bonggol kayu jati untuk menggerakan mesinnya,” kata dia.

Menurut Sri, dengan bonggol kayu jati, kompresi dorongan bara api cukup memanasi air sebanyak 6000 liter yang dijadikan sebagai uap pendorongnya. Kata dia, panasnya bara bonggol kayu jati juga awet.

Selama perjalanan, wisatawan disuguh suara KA Sepur Klutuk sekaligus berbagai klakson yang mendera di tiap persimpangan. Wisatawan juga disuguh pemandangan dua petugas yang terus membakar bonggol kayu jati untuk masuk dalam tungku.

Dua petugas itu adalah Slamet dan Prayogo. Kepada Radarmas, Prayogo mengaku sudah tiga tahun menjalani pekerjaan sebagai pembakar bonggol kayu jati di sepur klutuk ini. Kata dia, dalam sekali perjalanan dari Ambarawa ke Tuntang, butuh sedikitnya 2,5 kibik bonggol kayu jati.

Sekitar 20 menit perjalanan, sampailah rombongan di Stasiun Tuntang. Di Stasiun ini, Sepur Klutuk langsir. Langsir adalah merubah Lokomotif untuk kembali pada posisi penarikan menuju rute pulang. Saat langsir, gerbong dan loko terpisah dan akan saling menyambung lagi di sisi yang berlawanan. Sekitar 10 menit kemudian, langsir selesai. Sepur klutuk pun siap berjalan pulang ke Stasiun KA Ambarawa.

“Jaraknya sekitar 12 KM untuk pulang pergi,” ujar Kepala Stasiun Museum KA Ambarawa Amin Sugianto menyambut rombongan wisatawan seusai tiba di Stasiun KA Ambarawa.

Menurut Amin, lokomotif sepur klutuk sudah berusia lebih dari seabad. Loko ini dibuat pada tahun 1902. Paketan perjalanan sepur klutuk ini untuk Stasiun Ambarawa menuju ke Stasiun Tuntang sejauh 12 KM (pulang pergi) sebesar Rp 5 juta.

Harga yang fantastis untuk sekedar perjalanan sejauh 12 KM. Tapi jangan salah, kata Amin, suguhan pemandangan dan nuansa kuno begitu lengket. Hal ini membuat wisatawan terbang jauh mendekat ke memori masa penjajahan di jaman dulu.

Harga yang besar juga sebanding dengan operasional. Menurut dia, selama perjalanan 12 KM itu, butuh setidaknya 2,5 kibik bonggol kayu jati. Padahal, satu kibik bonggol kayu jati berharga Rp 1,2 juta. Total kebutuhan bahan bakar saja sudah Rp 3 juta.

“Untuk menjalankan Sepur Kluthuk ini, harus melakukan pembakaran 3 jam terlebih dahulu. Setelah tiga jam baru bisa jalan. Kalau sudah tiga jam pula, uap dari suhu enam ratus derajat itu akan menggerakan sekher dan baru bisa jalan,” katanya.

Dia menceritakan, untuk lokomotif tua jenis B2502 ini hanya ada tiga di dunia. Satu di Ambarawa, satu di Swiss dan satu lagi di India atau Pakistan.

Tak cuma jenis B2502, di Museum KA Ambarawa sendiri ada 21 lokomotif tua. Hanya saja, yang bisa berjalan tinggal empat, dan salah satunya adalah sepur kluthuk di Solo

“Wisata sejarah KA di Museum KA Ambarawa ini sudah diakui di dunia internasional. Berbagai negara, kapal pesiar dari eropa yang rapat di Tanjung Emas Semarang selalu menyempatkan untuk menggunakan Sepur Klutuk tua ini,” kata dia.

Selain itu, untuk bisa naik Sepur Klutuk ini, para wisatawan juga diharuskan membooking terlebih dahulu. Bila mendadak, kata dia, tidak bisa dijalankan. Sebab, butuh proses pemanasan yang panjang.

Dalam daftar penumpang wisatawan seperti dipapan tulis di ruang KS, sudah terlihat puluhan paket yang mengantri. Kata dia, hampir setiap hari ada penumpang wisatawan.

“Sebulan, rata-rata 20-25 perjalanan,” kata dia menyebut rute perjalanan Stasaiun KA Ambarawa menuju Stasiun Bedono yang melintasi berbagai rute pegunungan menjadi paket favorit dengan harga Rp 7,5 juta dengan penumpang maksimal sebanyak 80 orang.

Tangkas Pamudji/Radar Banyumas