tasripind

“Kami mungkin memang hidup kekurangan, mbak. Tapi kami tidak menelantarkan anggota keluarga kami sendiri…” ( Ali Katun, uwa’ dari Tasripin)

Saya harus benar-benar mencengkeram erat pinggang pak Zayin saat melintasi batuan terjal sepanjang jalan menuju Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Jalanan berbatu dan curam membuat tubuh ini terpental-pental diatas sepeda motor. Kalau tidak benar-benar menjaga keseimbangan, maka siap-siap saja bercumbu dengan cadasnya bebatuan lereng gunung itu.

Dibawah hangatnya mentari senja pasca rintik hujan, kami berempat – Saya, Pak Zayin, dan kedua anak Pak Zayin – merelakan diri terpental-pental diatas sepeda motor untuk bisa mencapai rumah ananda Tasripin (12) yang dalam beberapa hari terakhir cukup menjadi pemberitaan di media. Kilas cerita, awalnya saya melihat berita itu di dinding Facebook Pak Satrio Arismunandar. Melihat nama lokasi yang tak asing, maka saya penasaran. Saya sempat meninggalkan komentar untuk menanyakan sumber informasi. Kebetulan wilayah Cilongok adalah lokasi dimana saya dan teman-teman Lazis Mafaza Peduli Ummat beberapa kali mengadakan kegiatan  disana.

Dari kabar di berbagai media, Tasripin dikisahkan sebagai seorang remaja yang memiliki kisah hidup memilukan. Sebenarnya saat pemberitaan itu ada, saya pun berencana untuk menengok. Untuk bisa memastikan bantuan apa yang kira-kira bisa diberikan. Namun kepadatan aktivitas belum mengizinkan. Terdengar kabar juga bahwa Bapak Bupati yang beberapa hari lalu baru dilantik sudah mengunjungi Tasripin. Saya bersyukur, setidaknya ada perhatian dari pemerintah. Alhamdulillah.

Kabar tentang Tasripin tersebut ternyata membuat salah seorang berjiwa dermawan menghubungi saya meminta tolong untuk menyampaikan bantuan untuk Tasripin. Saat ini sang dermawan berdomisili di New York, dan demi melihat pemberitaan tentang Tasripin, hatinya yang lembut sangat tersentuh. Bahkan berdasar pengakuannya, ia benar-benar meneteskan air mata haru.

Karena berniat menolong itulah, saya berpikiran harus benar-benar menengok kondisi Tasripin terlebih dahulu. Memberikan bantuan itu kan bukan sekedar memberi trus selesai, tapi bagaimana bantuan itu bisa tepat sasaran. Saya sedang berpikir, siapa wali dari Tasripin dan adik-adiknya untuk kami amanahi bantuan tersebut. Apakah lewat perangkat desa atau bagaimana. Maka untuk menjawab itu, siang tadi saya dan seorang teman meminta bantuan Pak Muzayin untuk mengantarkan ke lokasi.

Kehidupan Tasripin memang berbeda dengan anak-anak lain seusianya.  Ayahnya kerja di luar Jawa dan ibunya telah meninggal setahun yang lalu saat kecelakaan kerja tertimpa longsoran tanah.  Sementara itu Tasripin memiliki tiga orang adik yang masih kecil-kecil. Beberapa bulan setelah sang ibu meninggal, Wito (sang ayah) memilih untuk mengadu nasib di pulau sebrang. Sekitar delapan bulan berbilang sudah, ayahnya kini menjadi perantau di tanah orang. Menurut penuturan dari Pak Ali Katun -uwa’ / pakdhe dari Tasripin- , Wito berencana pulang di bulan Sembilan (September).

Ya, inilah yang  tak sempat tersampaikan oleh media. Tasripin dan ketiga adiknya tidak hidup sendiri. Mereka masih dalam bimbingan kerabat dari Wito, Ayah Tasripin. Bahkan, Wito pun bukan seorang ayah yang lepas tanggung jawab begitu saja. Ia masih menunaikan tanggung jawabnya dengan mengirimkan sebagian penghasilan untuk anak-anaknya di kampung. Meski jumlahnya tidak seberapa, tapi tanggung jawab itu ada. Meski ada beberapa kisah juga dibalik keberangkatan Pak Wito ke Kalimantan, tapi itu cukup bersifat privasi dan untuk yang ini saya merasa tak perlu diungkapkan di catatan ini ya.

Hal lain yang juga perlu disampaikan adalah bahwa ada sedikit rasa tersinggung pada Pak Ali Katun selaku keluarga. Sepeninggal ibunda dari Tasripin, sang Uwa’ inilah yang juga menyediakan kebutuhan pokok untuk keponakan-keponakannya itu. Beliaulah yang memasak dan menyediakan makanan. Kalau beberapa hari terakhir ini Tasripin tidak ikut makan di rumah sang Uwa’ , itu dikarenakan dirumahnya sedang ada sekelompok pelajar dari Boarding School Baturaden yang sedang melakukan praktek lapangan selama sepuluh hari disana. Jadi kebutuhan makan sudah ada yang menyediakan.

“ Kami mungkin memang hidup kekurangan, mbak. Tapi kami tidak menelantarkan anggota keluarga kami sendiri,” begitu penuturan Pak Ali Katun. Apalagi jika ada berita bahwa berhari-hari Tasripin makan berlauk garam. Ternyata gegapnya pemberitaan tentang Tasripin itu cukup menyinggung Pak Ali sekeluarga.

Yang saya tidak habis pikir, kok narasumber sedekat Pak Ali tidak ada satu pun namanya terselip di berbagai pemberitaan itu. Padahal Pak Ali juga ketua RW yang tinggalnya hanya selisih satu rumah saja. Dari sekian banyak pemberitaan, narasumber yang dicantumkan hanya Tasripin. Nama Pak Bau , Pak Kades atau sekedar guru ngaji nya pun tidak disertakan sebagai narasumber.  Saya jadi terpikir, oh ini berita release. Paling mudah memang membuat berita dari kiriman release. Tinggal olah kata-kata, beberapa kali telepon, tak harus ke lapangan. Selesai.

Saya tahu, wartawan itu punya tuntutan kejar deadline. Saya tahu jadi wartawan itu sungguh luar biasa perjuangannya. Tapi, apa sih ruginya kita benar-benar ke lokasi melihat kondisi sesungguhnya dan mewawancari narasumber yang terkait?!

Lepas dari itu semua, kondisi Tasripin sekeluarga ya memang termasuk masyarakat dhuafa. Jadi, kalau permasalahan ada yang ingin memberikan bantuan itu ya tidak masalah. Mereka tetap termasuk sebagai orang yang berhak mendapatkan bantuan. Kondisi itu juga banyak terjadi di masayarakat lain.

Yang ingin dikritisi disini adalah model pemberitaan yang asal angkat. Kalau kata Pak Iwan, Penulis atau reporternya tidak melakukan NEWS (North East West and South). NEWS itu kan juga singkatan agar dalam setiap peliputan kita mengcover dari segala penjuru.

Saya tak habis pikir kenapa sebuah feature human interest ternyata dibuat seperti sinetron dengan bumbu-bumbu disana-sini. Apakah kita sudah kehilangan kreatifitas untuk mengolah fakta yang ada supaya tersajikan manis di hadapan pemirsa tanpa harus menafikan fakta?! Apakah kita sudah kehilangan cara untuk menyentuh perasaan pembaca dengan tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan yang ada?

Sedikit informasi tambahan yang saya dapatkan, bahwa kemunculan Tasripin di media pun bukan “penemuan tak disengaja”  oleh jurnalis. Memang ada pihak yang sepertinya membuat release serta “mengundang” beberapa awak media melakukan peliputan tentang itu. Tentang motif lain ya memang ada. Tapi saya tidak tertarik membahas itu. Saya ingin menutup mata tentang informasi-informasi itu. Bagi saya, semua orang memiliki niat baik untuk membantu Tasripin.

Saya hanya ingin menyoroti bahwa pemunculan kisah-kisah seperti Tasripin sangat tidak elok dijadikan sebuah komoditi berita yang mungkin hanya terkejar deadline. Kisah-kisah seperti itu perlu ada investigasi yang menyeluruh. Apalagi kalau memang beberapa media online hanya menyadur dari release. Saya sangat menyayangkan hal itu.

Sedikit saja kita mencoba membayangkan bagaimana perasaan Pak Wito yang ada di Kalimantan sana. Bahwa beliau pergi jauh untuk mencari nafkah, menyisihkan penghasilan untuk anak-anaknya di kampung, tiba-tiba melihat sebuah pemberitaan tentang kehidupan memilukan anak-anaknya.

Sejauh ini, yang saya lihat media yang cukup baik dalam mengangkat kisah Tasripin adalah pemberitaan oleh Metro TV, tulisan dari mas Liliek Dharmawan.  Selain itu, isinya hampir sama. Bahkan di beberapa berita, itu ada kesalahan mencantumkan nama ayah, dan lain-lain. Bukankah feature kemanusiaan itu harusnya dibuat dengan sangat hati-hati ya?

Tapi, lepas dari itu.., kisah hidup Tasripin cukup menyentuh kita semua. Bahkan kondisi seperti Tasripin tidak sekali dua kali saya jumpai. Beberapa hari lalu saya menyambangi Astuti, gadis cilik yang tinggal di Kampung Rahayu yang harus putus sekolah. Ada juga Pak Pasidi yang bahkan rumah pun tak punya. Ibu Nini Sewot yang rumahnya hampir ambruk. Ibu Karsitem yang tinggal di pos ronda. Ada Anto, adik OS yang ditinggal pergi bapaknya. Serta masih banyak lagi. Semua itu ada di sekitar kita.

Bahwa kedermawanan itu tak perlu menunggu berita menjadi besar oleh media. Bahwa semangat berbagi itu tak perlu menunggu kisah feature dramatis. Mencaci pemerintah? Apa gunanya? Sudah saatnya turun tangan bukan tunjuk tangan atau lipat tangan. Semoga ketersentuhan hati kita bukanlah menjadi sekedar korban kejar deadline wartawan. Namun, apapun yang sedikit itu semoga menjadi penstimulan berkah untuk semua. aamiin.

Shinta arDjahrie/Fundraising Manager Lazis Mafaza Peduli Ummat, Purwokerto)