Batuan Purba
Waktu sehari tak akan cukup untuk mengunjungi 33 titik kawasan Karangsambung dengan luas 400 kilometer persegi itu. Wisata minat khusus geologi ini akan tetap memikat karena banyak spot unik yang bisa dikunjungi.

Devry Hastri menyebutkan, kawasan Karangsambung dalam skala besar terbagi menjadi dua bagian besar. Dua kawasan tersebut merupakan perbukitan batuan yang dipisahkan oleh Sungai Luk Ulo. “Perbukitan di Utara Sungai, usia batuannya lebih tua. Banyak batuan pratersier di situ. Sementara di sebelah selatan sungai, banyak batuan lebih muda mulai dari tersier hingga miosen,” katanya.

Berikut ini beberapa spot menarik dan layak untuk dikunjungi.
Kampus Karangsambung, di lokasi yang didirikan tahun 1964 ini banyak terdapat fasilitas. Selain rumah untuk tamu, juga ada penginapan untuk mahasiswa yang sedang penelitian. Di kompleks ini, ada museum dengan koleksi batuan khas Karangsambung. Berbagai bongkah batuan langka juga bisa dijumpai di tempat ini.

Di kawasan Karangsambung terdapat banyak lokasi yang menunjukan batuan yang pada dasarnya merupakan batuan dasar samudera. Mengapa sekarang berada di permukaan? Hal ini dikarenakan evolusi kulit bumi jutaan tahun yang lalu. Lokasi lokasi ini selanjutnya di sebut singkapan.

Beberapa Lokasi Singkapan tersebut adalah sebagai berikut:

Kali Muncar
Untuk mencapai tempat ini, diperlukan perjuangan kecil atau tepatnya berjalan sekitar 15 menit menusuri pematang sawah. Pada dinding kali Muncar, terlihat batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar 100 meter.

Formasi itu jika dilihat seperti kelir atau layar pertunjukan wayang dengan batuan beku pada bagian atasnya laksana gong dan kenong. Masyarakat setempat menyebutnya watu kelir. Tempo menyebutnya, batuan kue lapis.

Bentuknya memang seperti kue lapis, karena formasi bataunnya selang-seling antara rijang dengan gamping merah. Mochamad Aziz mengatakan, batuan rijang terbentuk di kedalaman 4000 meter di bawah permukaan laut, sementara gamping merah terbentuk di bawah kedalaman 4000 meter. “Karena pengaruh tektonik yang naik turun sehingga terbentuklah formasi selang-seling ini,” katanya.

Kali Brengkok
Di tempat ini, batuan tertua di Jawa bisa ditemukan. Namanya batuan Sekis Mika dengan umur mencapai 117 juta tahun. Batuannya berwarna abu-abu cerah dan tampak mengkilap jika terkena sinar matahari. Anak-anak setempat biasa menggerusnya dan menjadikannya bedak agar nampak mengkilap.

Warna putih metalik berlembar pada batuan adalah mineral mika, sedangkan lapisan-lapisan tipis merupakan penjajaran mineral karena pengaruh tekanan yang sangat kuat pada saat proses perubahan batuan asal menjadi Sekis Mika di dalam perut bumi. Batuan ini merupakan bagian alas pulau Jawa juga merupakan batuan dari lempeng samudera Hindia.

Totogan
Di lokasi ini akan banyak ditemuai formasi batuan marmer. Usianya mencapai lebih dari 65 juta tahun yang lalu. Di bagian kiri terdapat batuan tersier dan disebelah kanan terdapat morfologi pra tersier dicirikan oleh bukit yang menyendiri tidak teratur, berbentuk prismatik, batuan pada morfologi ini di kenal sebagai melange seboro. terlihat tiga bukit berbentuk prismatik dengan susunan batuan dan lingkungan pembentukannya berbeda, G. Gliwang, tersusun oleh sekis dan sedimen pelitik.

Pucangan
Untuk mencapai tempat ini tidaklah terlalu sulit, karena berada di tepi jalan persis. Tempatnya cukup mencolok karena seperti bukit dengan warna yang berbeda dari sekelilingnya. Batuan berwarna hijau gelap mengkilap adalah Serpentinit. Serpentinit merupakan batuan ubahan dari batuan ultra basa berwarna gelap hasil pembekuan magama pada kerak samudera Terjadinya batuan ini melalui dua fase, fase pertama terjadi saat batuan ini bersentuhan dengan lingkungan laut, sedangkan fase kedua terjadi pada saat masuk zona tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi.

Wagirsambeng
Bukit Wagirsambeng, begitulah masyarakat menamakannya. Dari Puncak bukit ini kita dapat menyaksikan kenampakan amphiteater yang dibatasi oleh rangkaian perbukitan yang berbentuk tapal kuda. Sungai Luk Ulo yang meliuk liuk bagaikan ular yang sedang berjalan, sangat jelas terlihat. Formasi ini terbentuk pada jaman kapur atas.

Kali Mandala
Kali Mandala merupakan salah satu anak sungai Kali Luk Ulo, dan mengalir ke Sungai Luk Ulo mengikuti zona sesar / patahan berarah timurlaut – baratdaya. Kali Mandala ini merupakan batas pemisah antara batuan pra-tersier di sebelah utara dengan batuan tersier di sebelah selatan. Pada lokasi ini juga dapat dijumpai batuan beku basalt berupa lava bantal yang sudah mengalami breksiasi dan nampak rekahan-rekahan (joint).

Bukit Sipako
Sekitar 300 m ke arah utara tepatnya dari kaki bukit Sipako, terdapat singkapan blok rijang-batugamping merah yang menunjukan kontak sesar dengan fillit di bagian selatan dan dengan greywacke di bagian utara.

Pada kaki bukit Sipako terdapat singkapan fillit-grafit yeng telah mengalami perlipatan. Batuan ini diinterpretasikan sebagai produk selama proses subduksi yang mentransfer sedimen palung ke dalam metamorfosa derajat rendah. Singkapan ini telah mengalami deformasi lanjut yang ditunjukan oleh sesar-sesar naik, jalur milonit, dan fault gouge.

Gunung Parang
Gunung Parang yang terletak sekitar 300 m ke utara dari UPT BIKK Karangsambung LIPI terdapat singkapan batuan beku diabas. Batuan ini diinterpretasikan merupakan batuan intrusi, dan menunjukan struktur kekar tiang (collumnar joint) yang mana merupakan hasil gaya kontraksi pada saat pembekuan magma. Pada daerah ini telah dilakukan konservasi sebagian dan sebagian lagi telah dilakukan penambangan. Apabila penambangan ini terus dilakukan dikhawatirkan batuan diabas akan habis.

Batugamping Numulites
Pada lokasi ini dijumpai singkapan batugamping Nummulites yang banyak mengandung fosil foraminifera besar (Nummulites dan Discocyclina) berwarna krem. Batuan ini terbentuk pada lingkungan laut dangkal dan berumur Eosen. Keterdapatan batuan di lokasi ini diperkirakan akibat proses pelongsoran skala besar.

Sungai Luk Ulo
Lokasi ini berjarak sekitar 200 m ke arah barat dari UPT BIKK Karangsambung – LIPI, berada di tepi Sungai Luk Ulo, kaki bukit Pesanggrahan. Pada lokasi ini dijumpai batuan sedimen konglomerat berwarna abu-abu cerah dengan fragmen bervariasi (kuarsa, batupasir, rijang, batuan beku, dan batuan metamorf) yang tersemen sangat kuat. Konglomerat ini merupakan bongkah sangat besar hasil pelongsoran.

Kali Cacaban
Pada sepanjang Kali Cacaban dapat disaksikan singkapan batulempung bersisik yang merupakan batuan sedimen pada zone tektonik kuat dengan bongkah-bongkah batupasir dan rijang yang sering memperlihatkan struktur ikan (fish structure).

Bukit Jatibungkus
Lokasi ini berada sekitar 200 m ke arah timur dari jalan Karangsambung – Kebumen. Bukit Jatibungkus merupakan bongkahan raksasa batugamping terumbu berukuran sekitar 350 m x 150 m dengan tinggi 40 m. Batuan ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal dam keterdapatannya pada lokasi ini kaibat proses pelengseran gaya berat. Pada bukit ini juga dijumpai gua-gua seperti Gua Langse di sebelah barat dan Gua Sikepul dan Gua Silodong di sebelah timur.

Bukit Waturanda
Pada lokasi ini dijumpai singkapan batuan berupa perselingan batupasir dengan breksi vulkanik pada Formasi Waturanda yang nampak sangat tebal dan miring ke arah selatan. Batuan ini merupakan hasil dari pelongsoran berulang-ulang material vulkanik.

Pemandian Air Panas Krakal
Pemandian air panas Krakal terletak di desa Krakal Kecamatan Alian, 11 km timur laut Kota Kebumen. Selain merupakan tempat pemandian untuk rileks, air hangat di pemandian krakal dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, kudis dan juga dapat menyembuhkan rematik.