Jazz Dieng

DIENG – Suhu dingin dengan kabut tipis menyelimuti Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng. Perlahan intro musik jazz mengalun rancak. Suara bening berlatar desau angin lembah, menambah nuansa jazz menemukan ruangnya.

“Kami menamakannya Jazz Di Atas Awan,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa, Alief Faozi, sambil membayangkan konsep pergelaran jazz, Selasa (7/5).

Ia mengatakan, pergelaran Jazz itu akan dihelat pada 30 Juni. Acara itu masih satu rangkaian dengan Dieng Culture Festival 2013. Jualan utamanya masih ritual potong rambut gimbal anak-anak Dieng.

Pada bulan Juni, kata dia, Dieng sudah memasuki musim kemarau. Di musim kemarau, imbuhnya, panorama Dieng sedang bagus-bagusnya. Selain matahari terbenam dan tenggelam menyibak kabut tipis, fragmen munculnya pucuk-pucuk Candi Arjuna di atas awan kabut juga sangat menakjubkan.

Alief mengatakan, jika sambutan Jazz Di Atas Awan oleh masyarakat baik, acara tersebut akan dibuat rutin tahunan seperti Jazz Gunung di Bromo dan Ngayogjazz di Yogyakarta. “Dieng berpotensi menjadi salah satu tujuan wisata andalan dengan adanya pergelaran jazz ini,” katanya.

Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, beberapa waktu lalu mengatakan, ia sudah pernah berbincang dengan Bupati Wonosobo, Kholiq Arief, untuk membuat pergelaran jazz tingkat nasional. “Dieng sangat layak untuk dijadikan tempat untuk festival jazz,” katanya.

Menurut dia, panggung terbuka di Dieng menjadi nilai tambah tersendiri. Kabut yang cukup tebal bisa menjadi latar panggung tersendiri saat pergelaran.

Pelaku wisata Dieng, Alif Rahman mengatakan, tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan Dieng Culture Festival. “Ruwatan cukur rambut gimbal tetap akan menjadi andalan utama,” katanya.

Tahun ini, kata dia, pesta kembang api juga akan digelar di kompleks Candi Arjuna. Selain itu, pesta budaya lokal juga masih akan digelar di festival itu.