Banyumas Extravaganza

Bagi masyarakat Kabupaten Banyumas mendengar nama Begalan mungkin bukan hal yang asing lagi. Tapi sayangnya tidak semua orang memahami sepenuhnya cerita di balik tradisi yang satu ini. Tradisi yang menjadi bagian dari adat yang dilakukan dalam rangkaian resepsi pernikahan ini telah mengalami modifikasi sesuai dengan perkembangan jaman. Hal itu disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini, yang sudah mulai berkurang kepercayaannya terhadap tradisi atau adat orang jawa yang juga disebut “kejawen”. Ini dilakukan untuk menjaga eksistensi dari tradisi yang sudah mulai pudar di masyarakat. Namun nilai-nilai yang ada di dalamnya tetap dipertahankan, walaupun kadang masyarakat tidak memahami sepenuhnya nilai yang terkandung di dalam sebuah tradisi.

“Sekarang ini begalan sudah banyak dimodifikasi, tapi pakem yang ada didalamnya tetap kita pertahankan”, ungkap Hadi Suwito(70) salah satu pemeran begalan di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.

Begalan berasal dari sebuah kisah pada waktu Adipati Wirasaba hendak mempersunting putri dari Adipati Banyumas di hari sabtu pahing. Layaknya seorang yang akan mempersunting seorang istri, Adipati Wirasaba bersama rombongan membawa pernak-pernik pernikahan. Namun di tengah perjalanan saat sampai di sebuah tempat rombongan Adipati Wirasaba bertemu dengan garong atau rampok yang di Banyumas disebut begal. Hingga pertarungan pun tidak bisa dielak kan. Namun akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh rombongan Adipati Wirasaba. Tempat dimana pertarungan itu terjadi diberi nama Sokawera, karena Adipati Wirasaba yang bertarung rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Kemudian rombongan itu beristirahat sebentar di tengah hutan sambil memeriksa barang bawaan, dan ternyata barang yang dibawa itu kurang(long dalam banyumas,red). Sehingga tempat tersebut diberi nama Pegalongan. Dan ketika di tengah perjalanan hendak menyeberangi sungai, rombongan itu menemukan mayat dari perampok yang bernama Suradilaga. Dan tempat tersebut diberi nama Cindaga. Perjalanan dilanjutkan sampai di tempat acara pernikahan, hingga pernikahan pun dapat terlaksana.

Cerita itulah yang melatarbelakangi adanya tradisi begalan di Banyumas. Bahkan bagi sebagian masyarakat yang masih memegang kuat adat dan tradisi, mereka akan menghindari bepergian jauh di hari sabtu pahing. Karena mereka percaya jika orang bepergian jauh di hari sabtu pahing maka dia bisa kena celaka.

Tradisi begalan biasanya dilaksanakan dalam rangkaian resepsi pernikahan jika yang dinikahkan adalah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan. Begalan dipercaya dapat membawa kebaikan bagi pasangan pengantin ketika kelak mereka menjalani kehidupan rumah tangga. Seperti dihindarkan dari masalah berat dan juga dimudahkan rejekinya.

Di dalam tradisi begalan sendiri sebenarnya banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Contohnya nilai yang ada dalam barang bawaan yang dipikul, yang kebanyakan adalah alat dapur. Seperti ilir(kipas dari anyaman bambu,red) yang memiliki makna manusia harus sering melakukan silaturahmi atau berbagi rejeki pada orang lain. Cikrak(serok sampah dari bambu,red) yang bermakna manusia harus membuang kotoran yang ada dalam dirinya, atau bisa disebut zakat. Dan juga beberapa barang lain yang memiliki makna sendiri-sendiri.

Begalan pada sekarang ini sudah banyak dimodifikasi. Seperti pada doa-doa yang dibacakan dan juga runtutan cerita yang ada di dalamnya. Itu dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan jaman, dimana masyarakat sekarang sudah berpikir lebih modern. Namun biar bagaimana pun juga tradisi adalah tradisi, yang harus senantiasa kita jaga. Sebagai bagian dari kekayaan adat dan budaya yang diwariskan oleh kakek nenek kita.

Yudi Setiyadi/Bloger Keniten