Aksi Mahasiswa

Malam itu, MA bersama seorang lainnya menyusuri lorong-lorong kampus sembari mengecek setiap sudut hingga diyakini aman. Lelaki berusia 42 tahun mengandalkan pekerjaan ini untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Tetapi empat bulan belakangan, uang yang setiap bulan seharusnya Ia terima tak jua kunjung turun.

Dengan gaji yang relatif kecil, MA menggeluti profesi penjaga malam sebagai sumber utama penghasilannya. Sejak 2005, setiap bulan Ia terima uang dengan nominal dibawah UMR Purwokerto. Belakangan ini, dari Januari hingga April, MA dan beberapa karyawan honorer unsoed yang lain belum digaji. Tak hanya gaji, tunjangan pun seret Ia dapat. “Saya sudah bekerja selama 8 tahun, selama ini belum pernah telat, baru kemarin saja,” ujar MA (25/05).

Seorang penjaga malam lain, berinisial NI (38) menuturkan, selama gaji yang belum dibayarkan unsoed terhadap dirinya dan rekan-rekannya, para karyawan sering nombok untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ia menyayangkan selama keterlambatan, tak ada konfirmasi yang disampaikan pihak universitas. Hal ini dirasakan juga MA, dan membingungkan para karyawan lainnya “Sebenarnya ada apa loh? Kok sampai telat, nggak ada penjelasannya,” ucap MA.

Ada ketakutan yang dirasakan MA untuk menanyakan soal gaji. MA mengaku trauma, beberapa temannya bahkan pernah mendapat ancaman saat melayangkan protes “Teman saya pernah ada yang tanya ke pusat, tapi malah dibilang kalian mau dikasih SK? (red: pemecatan),” tuturnya. Birokrasi yang berbelit-belit juga dialami NI, fakultas tempat Ia bekerja tidak tahu menahu soal keterlambatan gajinya “Saya sempat tanya dekan, tapi katanya yang ngurusin universitas,” ungkapnya (25/05).

Setelah dikonfirmasi, Ir. Hery Adwi K.E., M.P., Pembantu Dekan Fakultas Pertanian II menerangkan soal gaji karyawan diurusi oleh universitas. “Mulai tahun 2013 semua pembayaran dipusatkan di universitas,” tutur PD II saat ditemui Agrica diruangannya. Sementara itu, bendahara pengeluaran Unsoed,Tunggul Priatmojo, S.E. menjelaskan pemberian gaji karyawan honorer dibayar melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP) “Karyawan honorer dibayar oleh PNBP melalui universitas,” ujarnya(28/05).

Saat disinggung terkait kasus uang kuliah tunggal dan penyelewengan kerjasama Rektor Unsoed dengan PT.Antam yang baru-baru ini terjadi, bahkan desas desus pembekuan rekening rektor, Tunggul membantahnya. Ia menegaskan keterlambatan gaji disebabkan karena pemblokiran dana Kemendikbud oleh Kemenkeu.“Gak ada hubungannya sama UKT, itu mah kebetulan aja ada kasus-kasus UKT” ucapnya. Sementara, PD II tidak ingin berkomentar “Kenapa tanya-tanya ini?,” ujarnya.

Menurut Tunggul, keterlambatan gaji terhadap karyawan honorer selama empat bulan sudah ditalangi oleh SPP mahasiswa. “Kan sudah ditalangi pake uang SPP,” ucapnya. Namun, menurut NI pembagiannya tidak merata,hanya beberapa karyawan honorer yangdapat talangan gaji. “Rata-rata karyawan pusat dan penjaga siang didahului,” ungkap NI. NI berharap tak akan ada lagi kejadian seperti ini karena membuatnya kalang kabut mencari sumber penghasilan lain.
MA tak ada pilihan lain, pekerjaannya sebagai penjaga malam yang gajinya tidak tentu seperti ini akan tetap Ia lakoni. “Ingin teriak tapi gak bisa,”pungkasnya. (Tim Agrica)