wisata3

DIENG – Hujan membuat suasana agak muram. Langit Dieng tampak mendung, Sabtu (29/6) akhir pekan lalu. Sekitar 30 ribu wisatawan asing maupun lokal tumplek blek di dataran tinggi dengan ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut itu.

“Wah pesta lampion bisa batal nih,” ujar Agung Pambudi, pelancong asal Jakarta, yang sengaja datang ke Dieng untuk melihat Dieng Culture Festival 2013.

Ia bersama 150 anggota rombongan, sudah jauh hari memesan penginapan. Ia cukup beruntung, karena banyak pelancong lainnya terpaksa menginap di tenda-tenda yang disediakan panitia. Tentu, dingin menusuk tulang dengan suhu rata-rata 10 derajat celcius.

Pesona Dieng tiap tahun menarik ribuan wisatawan untuk berkunjung. Terutama saat musim liburan sekolah. Apalagi, kini setiap tahun ada festival yang gelaran utamanya yakni pemotongan rambut gimbal.

Berbagai acara disiapkan pantia, yang rata-rata pemuda setempat, agar pengunjung terpuaskan. Salah satunya yakni pesta lampion yang dipusatkan di pelataran Kompleks Candi Arjuna. Seratusan lampion tradisional diterbangkan oleh wisatawan.

Langit Dieng pun terlihat penuh kelap-kelip. Beradu dengan gemintang yang mulai terlihat. Galaksi Bimasakti juga menjadi latar yang mempercantik terbangnya seratusan lampion itu. Tak berapa lama, kembang api membuncah menerangi langit. Juru foto sempat dibuat kaget karena dijadwal acara tertera, pesta kembang api baru digelar tengah malam. “Puas, lampionnya keren,” ujar Mahendra Bungalan, pelancong asal Jakarta.

Usai pesta lampion dan kembang api, wisatawan kembali ke penginapan masing-masing. Semakin malam, suhu udara semakin dingin. Angin berhembus pelan mengantar malam minggu menuju akhir.

Di Dieng, terdapat sekitar 60 home stay. Tarifnya per malam dipatok Rp 150 ribu per kamar. Selain selimut hangat, home stay juga dilengkapi dengan kamar mandi dengan air hangat. Hanya saja, tak semua kamar mandi menyediakan kloset duduk. “Iya, banyak yang mengeluhkan kepada saya soal tidak dilengkapinya toilet duduk,” kata Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, saat berbincang dengan Tempo.

Toh, tak banyak yang melewatkan waktunya sekedar tidur di penginapan. Sebab, pukul 03.00 dini hari, sebagian wisatawan memilih untuk naik Bukit Sikunir dan Bukit Prau. Mereka mengejar Golden Sunrise di kedua bukit itu.

Untuk menuju Bukit Sikunir, wisatawan harus menyusuri Telaga Warna. Mendaki sekitar dua jam. Tepat pukul 05.00, perlahan tapi pasti, sinar mentari mulai menyembul. Gugusan pegunungan di arah timur pun mulai terlihat.

Pucuk-pucuk gunung terlihat anggun diterpa sinar keemasan matahari. Ada Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu bahkan Gunung Slamet. Gumpalan awan membentuk permadani putih. “Seolah-olah sedang berada di negeri atas awan,” kata Nina, wisatawan.

Nina pun tak henti-hentinya mengabadikan momen itu dengan kamera sakunya. Ratusan wisatawan memadati puncak yang tak seberapa luas itu. Udara tipis pegunungan tak membuat mereka lelah.

Kondisi serupa terlihat di Bukit Prau yang merupakan gugusan perbukitan menyambung dengan Bukit Sikunir. Antrian pendaki dadakan terlihat zig-zag di lereng bukit. Sesekali ada yang terpeleset jatuh karena jalanan yang licin.

Puas dengan pemandangan alam, wisatawan sudah dinanti acara utama yakni ritual pemotongan rambut gimbal. Tahun ini ada tujuh anak bajang atau anak gimbal yang diruwat.

Pusat acara ruwatan berada di Kompleks Candi Arjuna. Sejumlah rangkaian ruwatan dimulai di rumah tetua adat, Naryono. 63 tahun. Ia adalah pemimpin upacara ini.

Menurut Naryono, anak gimbal merupakan fenomena leluhur yang sudah ada sejak ratusan tahun. “Mereka itu titipan anak bajang dari samudera kidul,” katanya.

Ia sendiri dulunya adalah anak gimbal. Bapaknya juga gimbal dan tiga anaknya, dulunya juga gimbal. Kegimbalan anak itu akan sembuh jika rambutnya dipotong melalui ritual khusus. “Sebelum dipotong, permintaan anak gimbal harus dipenuhi,” katanya.

Anak yang dipotong gimbalnya juga tak boleh dipaksa, harus atas permintaan sendiri. Orang tua juga wajib memenuhi apa permintaan anak sebelum rambutnya dipotong.

Tokoh masyarakat Desa Dieng Kulon, Handy Yubianto mengatakan anak berambut gimbal biasanya akan tumbuh rambutnya pada usia satu tahun. Sebelum tumbuh rambut gimbal, si anak akan menderita sakit panas. “Pagi harinya biasanya rambut gimbalnya tumbuh,” katanya.

Orang tua tak bisa meotong sembarang rambut anaknya. Jika dipaksa untuk dipotong, biasanya rambut akan tumbuh kembali dan si anak akan sakit. Selain itu, si anak gimbal mempunyai pembawaan yang sangat aktif dan cenderung nakal.

Tapi, bagi masyarakat setempat mempunyai anak gimbal merupakan anugerah. Mereka dipercaya bakal mendatangkan rezeki bagi keluarga.

Hingga saat ini, belum ada penelitian secara ilmiah mengapa rambut gimbal setelah diruwat bisa normal kembali. “Mungkin karena air sendang sedayu yang disiram saat jamasan,” ujar Handy mencoba menebak.

Sebelum diruwat, ketujuh bocah berambut gembel mengikuti kirab dari rumah pemangku adat, Naryono di Desa Dieng Kulon menuju lokasi ruwat di pelataran Cand Arjuna. Ketujuh bocah yang didampingi ibunya diarak menggunakan dua andong. Rombongan kirab diikuti barisan putra-putri pembawa sesaji, tokoh masyarakat, dan barisan kelompok kesenian.

Selain ada bocah gembel yang diruwat, dalam prosesi juga ada syarat yang harus dipenuhi. Orang tua harus menyediakan ‘penyuwunan’ dari si anak yang hendak di ruwat. Dalam pelaksanaan DCF, permintaan bocah gembel yang diruwat dipenuhi oleh panitia.

Permintaan bocah berambut gembel yang hendak diruwat biasanya bermacam-macam dan berbeda dengan bocah lainnya. Bila permintaan tak dipenuhi, rambut gembel yang sudah dipotong dalam acara ruwat konon bisa tumbuh lagi. Meski berat, orangtua atau panitia berusaha sekuat tenaga untuk menyiapkan permintaan si bocah gembel.

Ketujuh bocah berambut gembel yang diruwat adalah Sri Nuriyah (7), warga Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara dengan permintaan kambing jantan satu ekor. Peserta kedua, Lista bin Latif (7) warga Curug, Kecamatan Garung, Wonosobo yang meminta cincin, kembang api, dan sepeda merah

Peserta ketiga Argifari Yulisto (7), warga Sumberejo, Kecamatan Batur, Banjarnegara yang meminta ikan lunjar. Peserta keempat Mazaya Filza Labibah (6),saat ini tinggal di Perumahan Koperindag, Sumberjaya, Kecamatan Tambun, Bekasi, Jawa Barat yang meminta perhiasan kalung dan gelang, serta baju pesta.

Peserta kelima bernama Alira (3), asal Sumberan Kulon,Wonosobo yang minta jambu air lima buah dan tempe. Peserta keenam, Sasa (6), warga Desa Silandak,Kecamatan Mojotengah, Wonosobo yang meminta cincin. Adapun peserta ketujuh Adalah Tita (5), asal Dusun Blederan, Desa Leksmana, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo yang meminta topi.

Sebelum diruwat, ketujuh bocah yang usai dikirab keliling kampung kemudian dijamas menggunakan air sendang sedayu di utara Dharmasala kompleks Candi Arjuna. Setelah itu, ketujuh bocah berambut gembel dibawa ke pelataran candi. Rambut hasil ruwatan lalu dilarung di Danau Bale Kambang.

Siang beranjak malam. Pesta sebentar lagi usai. Penutup rangkaian acara hari itu yakni sebuah pergelaran musik jazz. Mereka menamakannya Jazz Atas Awan.