Terhimpit Modernitas (DL)

PURWOKERTO – Empat laki-laki berjubah putih tiba-tiba berdiri. Tanpa komando, mereka secara bersamaan mulai melantunkan azan zuhur, penanda dimulainya ibadah Jumat. Tanpa pengeras suara, suara mereka memenuhi Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak Kecamatan Wangon Banyumas, Jumat (12/7).

Penganut Islam Aboge (Alif Rebo Wage) atau kejawen itu menjalankan ibadah Jumat perdana di bulan Ramadan ini. Berpusat di masjid yang dikeramatkan, seluruh jamaah berkumpul menjelang ibadah dimulai. ”Cara ibadah kami seperti ini sudah menjadi adat kami turun-temurun. Kami tidak ada yang berani mengubahnya,” kata Sopani, 62 tahun, imam salat Jumat Masjid Saka Tunggal.

Sebelum salat Jumat dimulai, jamaah terlebih dahulu melantunkan puji-pujian. Shalawat dilagukan secara koor, sehingga terasa begitu kental nuansa tradisional Jawanya. Tak hanya itu, beberapa jamaah mengenakan udeng-udeng atau ikat kepala bermotif batik.

Hanya di Masjid Saka Tunggal saja kita masih bisa menjumpai muazin salat Jumat berjumlah empat orang. Mereka melantunkan azan tanpa mengenakan pengeras suara. Baris berjejer di depan mimbar khotbah, berpakaian baju panjang warna putih, kepalanya terikat udeng-udeng. Sementara jemaah lainnya diam, mendengarkan secara khusyuk.

Lalu tata cara salat jamaah di masjid kuno ini tak jauh berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya. Khusus pada salat Jumat, semua rangkaian salat Jumat dilakukan berjamaah, mulai dari salat tahiyatul masjid, qobliah jumat, shalat Jumat, bakdiyah Jumat, salat Zuhur, hingga bakdiyah Zuhur. Dengan demikian jumlah rakaat salat Jumat yang dikerjakan berjamaah sebanyak 14 rakaat.

Pesan atau khotbah Jumat dibacakan dengan menggunakan bahasa Jawa Ngoko. Demikian halnya bila mengutip terjemahan sebuah ayat suci Al Quran ataupun hadis.

Bambang Suhari, juru kunci komplek Masjid Saka Tunggal mengatakan, masjid tersebut dibangun pada tahun 1522 masehi. “Konon Islam awal di Jawa ada di sini,” katanya.

Ia menceritakan, adalah Ki Ageng Tolih yang awalnya bermukim di daerah itu. Ia mendirikan sebuah mesjid bernama Saka Tunggal sebagai pusat penyebaran agamanya.

Sebuah mesjid yang sangat unik. Di dalam mesjid hanya ada satu tiang penyangga (saka tunggal). Atapnya pun tidak terbuat dari genting biasa, tapi dari ijuk pohon aren.

Tak jauh dari mesjid tersebut, ada sebuah komplek pemakaman. Pemakaman tersebut tersusun atas tiga bagian. Masing-masing dijaga oleh satu orang juru kunci.

Kunci gunung, atau makam paling atas, dijaga oleh Bambang Suhari. Sedangkan kunci tengah dan lebak, masing-masing dipegang oleh Diman dan Sopani. “Penanggung jawab utamanya ya saya,” kata Bambang.

Di makam itulah, Ki Ageng Tolih di kebumikan. Juga ada beberapa makam kerabatnya dan makam para juru kunci terdahulu.

Ki Ageng Tolih hidup dalam masa Kesultanan Mataram Kuno. Karena masih awal, Islam-nya pun masih bercorak Kejawen. “Dulunya Banyumas itu masih tlatah Surakarta,” ujar Sudjarwo Purno Hadinegoro, sesepuh di daerah tersebut.