Terhimpit Modernitas (DL)

PURWOKERTO – Kastari, 81 tahun, duduk khusu dengan mata terpejam. Dari mulutnya mengalir deras doa-doa memohon perlindungan Tuhan. Hampir satu jam lebih, posisinya tak berubah, menikmati betul dzikir yang sedang dilakukannya.

“Setiap saat yang kami lakukan memang hanya beribadah,” ujar Kastari, Kamis (25/7).

Ia merupakan satu di antara 100-an santri di Pondok Jam’iyyah Thoriqoh Annaqsabandiyah Mujaddadiyah Sokaraja Banyumas. Di pondok ini, santrinya rata-rata sudah berumur 60 tahun ke atas.

Kastari sengaja ikut kegiatan di ponpes itu untuk menambah ketenangan batin. Di bulan Ramadan ini, kata dia, ia memperbanyak zikir bahkan hingga dini hari.

Sutiyo, 70 tahun, pengurus pondok mengatakan, selain santri asli di pondok itu juga menerima santri dadakan yang datang saat bulan puasa. “Kegiatan pesantren ini akan berakhir pada H-5 Lebaran,” kata dia.

Rata-rata santri dadakan itu tinggal di pondok selama 10-40 hari. Tak hanya dari Banyumas, sejumlah santri bahkan datang dari luar kota seperti Jakarta, Lampung dan Kalimantan. Untuk biaya sehari-hari, santri hanya dimintai biaya Rp 10 ribu atau rata-rata Rp 1.000 per hari.

Uang itu digunakan untuk bantuan membayar listrik dan air. Sedangkan untuk makan, santri membeli sendiri. Santri pun tak boleh makan daging alias vegetarian. Mereka hanya makan sayur-sayuran setiap hari.

Ponpes itu mempunyai daya tampung sekitar 1.000 orang. Pondok yang sudah berdiri sejak zaman Belanda itu kini dipimpin oleh Kyai Haji Raden Abdussalam, 86 tahun, atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Romo Guru.