Duren Bawor

PURWOKERTO – Teras rumah berukuran dua meter persegi itu nampak penuh dengan durian montong. Meski belum begitu matang, durian yang baru dipetik dari pohonnya itu akan diangkut ke Jakarta untuk dijual. Pada musim durian ini, permintaan durian montong dari Kemranjen Banyumas meningkat hingga dua kali lipatnya.

“Tadi pagi sudah diangkut truk pesanan Jakarta, ini nambah satu truk lagi,” terang Sarjianto, Ketua Kelompok Tani Tri Mulya Durian Alas Malang Kecamatan Kemranjen Banyumas, Selasa (3/1).

Di Kecamatan Kemranjen, ada tiga desa dengan tiga kelompok tani durian yang seluruh warga desanya menanam durian baik di pekarangan rumah maupun lahan perkebunan. Dalam satu kali panen, sedikitnya mereka menghasilkan 9.250 ton.

Sarjianto mengatakan, saat ini petani lebih suka menanam durian impor semacam montong dan cani. Sementara untuk durian lokal mulai terpinggirkan karena masyarakat lebih menyukai durian montong yang asalnya dari Thailand itu.

Di desa itu, jumlah pohon durian mencapai 5.000 batang. Dari jumlah itu, sekitar 2.200 pohon merupakan durian lokal. “Kemungkinan akan diganti durian montong semua yang lebih laku di pasaran,” imbuhnya.

Duren Bawor7
Umar Martoni, Ketua Paguyuban Petani Durian Unggul Karang Malang mengatakan, durian petruk, sitokong, dan durian sunan yang puluhan tahun sempat menjadi idola di kampung itu kini mulai digantikan durian impor. “Meskipun enak, durian lokal kalah bersaing dengan durian impor,” ujarnya.

Ia menyebutkan, durian montong pada usia tujuh tahun mampu menghasilkan 60 kilogram hingga satu kuintal durian dalam sekali panen. Panen raya durian biasanya dimulai sejak pertengahan Desember hingga akhir Januari. Biasanya mereka panen hingga delapan kali dalam periode itu.

Penyuluh Pertanian Lapangan Kemranjen, Nasipan mengatakan, saat ini durian montong Kemranjen sudah mendapat merek tersendiri di pasar Jakarta. “Petani sudah berani memasang merek dagang durian Banyumas,” kata dia.

Ia menyebutkan, tingkat kerusakan durian Kemranjen lebih rendah dibandingkan hasil panenan durian tempat lain. Di daerah itu, tingkat afkir panen durian hanya 20 persen, berbeda dengan Sukabumi yang mencapai 40 persen.

Menurutnya, topografi Kemranjen yang berbukit-bukit dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan laut sangat bagus ditanami durian. Selain itu, penggunaan pupuk kandang yang melimpah di daerah itu membuat tanaman durian tak membutuhkan pestisida, atau pertanian organik.

Agar durian lokal tak semakin terpinggirkan, kata dia, pihaknya setiap tahun mengadakan festival durian. Durian dengan kualitas terbaik akan diberikan nama dan dikembangkan secara masal. “Ini agar durian lokal tidak semakin menghilang,” ujar Nasipan yang dijuluki professor durian oleh masyarakat setempat.

Nasionalisme durian juga digelorakan oleh Sarno Ahmad Darsono, 45 tahun, petani duren di Desa Alas Malang. Ia menciptakan durian Bhineka Bawor dengan tehnik penyetekan batang durian dari berbagai jenis durian lokal. “Ayah saya penjual durian, jadi saya tau mana durian bagus dan jelek,” katanya.

Ia paham betul mana durian bagus dari melihat bijinya dan kulitnya. Indera penciumannya juga bisa mengendus mana durian matang dan masih mentah. Ia menyebutkan beberapa nama durian lokal seperti durian Petruk, Sunan, dan Kuning Mas yang mempunyai kualitas baik.

Dari pengalamannya itulah, di pertengahan 1996 ia terobsesi membudidayakan durian yang bisa menyaingi durian Thailand yang jamak diidolakan penggemar durian di Indonesia. Tahun itu juga, ia mulai mengerjakan mimpinya itu.

Sebagai langkah awal, ia mengumpulkan sebanyak 20 jenis durian varietas lokal dan impor. Bibit dari 20 varietas tersebut, ia kembangkan dengan teknik okulasi atau penyetekan. Tehnik tersebut, kata dia, bisa mempersingkat masa berbuah durian dari delapan tahun menjadi empat tahun.

Pada percobaan awal, Sarno langsung mengokulasi pohon durian Montong Oranye dengan 20 jenis durian lokal. Durian lokal itu diantaranya, Sunan, Petruk, Otong, Cinimang, Kereng, Kuningmas, Oneng, Bluwuk, dan Kumbakarna. Sarno membagi teknik okulasinya menjadi tiga bagian. Yakni pohon primer, sekunder, dan tersier.

Sarno menjadikan pohon durian montong sebagai pohon primer. Pada pohon primer ini, Sarno membuat 10 goresan untuk ditempeli 10 tunas pohon durian lokal berkualitas (sekunder).

Setelah empat bulan, pohon sekunder telah tumbuh pada pohon primer. Lalu, Sarno membuat goresan serupa untuk ditempeli tunas durian dengan kualitas sedang sebagai pohon tersier.

Percobaan yang dilakukan Sarno langsung berhasil. Empat tahun berikutnya, durian hasil percobaannya mulai berbuah. Pohon hasil percobaannya berbuah 40 durian montong oranye yang berbeda dari aslinya. Durian ini, berkulit tipis, daging buahnya lebih tebal.

Selain itu, warna daging buahnya juga lebih merah seperti durian kuning mas. Sedangkan rasanya lebih puket dan beralkohol seperti durian petruk. “Durian ini menang di rasa, warna, dan ketebalan,” ujarnya.

Tak hanya itu, ukuran buahnya juga jumbo seperti durian Kumbokarno yang terkenal besar itu. Rata-rata mencapai 10 kilogram per buah. Bahkan ada yang bisa mencapai 13,5 kilogram satu buah.

Merasa berhasil, Sarno pun mencoba menggunakan tidak hanya 20 pohon durian yang berbeda. Bahkan ia bisa mengokulasi hingga 33 pohon durian. Banyaknya pohon yang digunakan untuk okulasi menyebabkan pohon durian itu mirip tanaman bakau. Akarnya menjulang di atas tanah.

“Durian ini juga ramah lingkungan,” ujar Sarno yang sehari-hari mengajar di SDN I Manggungan Kemranjen itu.

Sarno menambahkan, akar durian ini mirip pohon bakau. Dengan akar seperti itu, durian tersebut mampu menahan laju erosi tanah sehingga sangat cocok ditanam di daerah perbukitan. Selain itu, durian ini juga tahan terhadap angin karena dahannya tak terlalu tinggi. Durian ini juga bagus untuk penghijuan dan tahan banjir.

Secara ekonomi, menanam durian bawor juga sangat menguntungkan. Kini, setiap bulan Sarno selalu kebanjiran pesanan durian dari durianholic Jakarta maupun Banyumas dan sekitarnya.

Sarno menjual setiap kilogramnya Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu. Satu buah durian bobotnya rata-rata mencapai 5-13,5 kilogram. “Saya pernah menjual satu buah durian Rp 250 ribu, bisa untuk nyicil sepeda motor,” katanya.

Tak hanya buahnya, Sarno juga sring menjual bibit tanaman yang diciptakannya. Ia menjual ke bibit tersebut hampir ke seluruh nusantara. Harga satu bibit berkisar Rp 75 ribu-Rp150 ribu, tergantung jumlah tunas yang diokulasi. “Beberapa jendral juga suka pesen bibit di sini,” imbuhnya.

Sarno tak memonopoli kegiatan ekonomi ini sendiri. Ia juga merangkul warga setempat untuk berbagi rezeki. Ia membagi-bagikan bibit durian bawor bagi warga setempat sekitar 10 ribu batang. “Saya sudah menanam 60 pohon dan kini sudah mulai berbuah,” terang Kusmadi, 40 tahun, warga setempat.

Ibu-ibu rumah tangga juga tak ketinggalan. Melalui Nirah, 44 tahun, istri Sarno, mereka membuat aneka jajanan berbahan dasar durian. “Kalau ada durian yang tak terlalu manis, kita bikin keripik dan manisan,” kata Nirah.

Sarno mengambil nama durian bawor bukan tanpa makna. Nama bhineka bawor mempunyai makna yang cukup nasionalis.

Duren Bawor8
Bhineka, kata Sarno, berasal dari Bhineka Tunggal Ika yang bermakna keragaman budaya dan keragaman jenis durian di Indonesia. “Dulu apa-apa durian Thailand, obsesi saya lima tahun lagi durian bawor sudah ditanam masyarakat Indonesia dari sabang hingga merauke,” katanya.

Sedangkan nama Bawor, diambilnya dari salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol Kabupaten Banyumas. Tokoh wayang ini mempunyai ciri cablaka atau berbicara apa adanya.