oleh FARID GABAN

Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa
menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan
mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan
sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya.

Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk
mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya
buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah

Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway)
dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas
tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita
tulis dalam sebuah kalimat pendek.

Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah
bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (katakata
yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan

Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa
bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi
dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset
kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan

Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi,
tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi
serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih
bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:
* Dialog (Umar Kayam)
* Reflektif (Goenawan Mohamad)
* Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
* Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

Menulis

Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar.
Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda
hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip
(jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta.
Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa
secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau
kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angkaangka
secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis
yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi
atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin
bahasa Inggris atau bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca
kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat.

Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan
pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa
diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.

Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia
mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif
menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak
terhindarkan.

Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai
persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui.
Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya.
Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan
pesan. Don’t tell it, show it.

Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot,
ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.
Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh.

Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya
sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar
sana”.

Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca
tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka
yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita
menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum
diluncurkan ke media.

(Farid Gaban)