Oleh Farid Gaban

Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis
Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun
(“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel?

Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel
kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?
Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu
menerjemahkan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak luas. Tak hanya
mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara
kreatif dalam esai-esai mereka.

Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap
mental tertentu:

KEINGINTAHUAN DAN KETEKUNAN:

Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu
“memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset,
membaca referensi di perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan
eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis.
Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika
mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya
kepada pembaca?

KESEDIAAN UNTUK BERBAGI:

Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca
tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada
bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih
universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas.

Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca
adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana,
seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

KEPEKAAN DAN KETERLIBATAN:

Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan
kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?

Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang
“sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka
merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).

Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan
maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah
kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek
kemanusiaan pada umumnya.

Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena
dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

KEKAYAAN BAHAN (RESOURCEFULNESS):

Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang
“berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apa saja. Hanya dengan itu dia bisa membawa
tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai
filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai
klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang
diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.

KEMAMPUAN SANG PENDONGENG (STORYTELLER):

Cara berkhotbah yang efektif adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya
disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan
disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam
pertunjukan wayang kulit.