GARIS wajahnya menandakan ia tak muda lagi. Kerut kulit wajahnya mengabarkan kakek ini telah melewati puluhan bahkan ratusan musim. Giginya pun tak banyak yang tersisa. Hananya terlihat dua gigi depan, sisanya habis termakan usia. Rambut pendeknya pun telah memutih.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya terlihat lebih muda dari penampilan fisiknya, yaitu semangatnya. Sorot matanya masih tajam. Gerak tubuh rentanya tegas. Bicaranya masih berapi-api, utamanya saat berkisah tentang masa lalunya. Masa dimana revolusi bersenjata tengah berkobar di penjuru tanah air. Dialah Pdt DR Abu Arifin MMiss, mayor TNI yang sempat menjadi ajudan II Jendral Soedirman.

“Coba tebak, berapa usia saya,” tanya dia membuka pembicaraan.

Tak satupun mampu menjawab dengan tepat. Arifin kini telah berusia 92 tahun. Ia tinggal di gang sempit tak jauh dari pasar tradisional di Purbalingga Kulon. Ia tinggal bersama putrinya di rumah yang terbilang sederhana. Memasuki ruang tamu, foto-fotonya bersama para pejabat nyaris memenuhi dinding bercat kuning. Menyatu dengan ruang tamu, tampak ruang kerja dengan tumpukan buku-buku tebal di atas meja. Di dinding tergantung seragam milternya dan di sisi lain terpampang peta yang menggambarkan rute gerilya yang ia lewati bersama Jendral Soedirman.

Ayah sembilan orang anak ini telah melewati berbagai peperangan, dari agresi militer di Surabaya, Bandung lautan api, hingga perang gerilya bersama sang jendral besar, panglima Sudirman. Kisah heroik itu bermula saat ia masuk menjadi anggota Kaigun Heiho angkatan laut tahun 1943 di Surabaya. Ketika itu, ia berperang di garis depan melawan pasukan Belanda yang ditopang sekutu. “Sampai tahun 1945, saya kembali ke Bandung dan masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menjadi embrio TNI,” kata dia.

BKR dibentuk tak lama setelah Republik secara resmi dideklarasikan Bung Karno dan Bung Hatta. Pada saat itu, Jepang telah menyerah pada Sekutu. Belanda kembali mencoba meneruskan penjajahannya. Peperangan pecah di mana-mana, antara BKR, pemuda dan laskar-laskar perang seperti Perindo dan Hizbulloh dengan pasukan belanda dan sekutu. “Di Bandung pecah perang yang dikenal Bandung lautan api. Bandung terpecah menjadi dua, bagian selatan dikuasai Republik sementara bagian utara Sekutu,” ujar dia.

Pertengahan tahun 1946, ia menjadi anggota pasukan markas besar polisi tentara (MBPT/MBPM) sebagai pasukan pengawal panglima besar jendral Sudirman. Saat inilah ia mengenal dekat Jendral Sudirman. Ia sempat mengawal Jendral Sudirman dlama perang gerilya. Padahal, sang jendral dalam keadaan lemah karena TBC yang menggerogoti paru-parunya. “Waktu itu Belanda mengingkari perjanjian genjatan senjata. Jendral Sudirman tak tinggal diam meskpun kondisinya lemah karena sakit,” kata dia.

Rombongan pasukan Sudirman memulai gerilya dari Jogjakarta menuju Gunung Wilis di Kediri. Selama 203 hari, Sudirman yang ditandu dan pasukannya yang berjalan kaki masuk keluar hutan. Saat, intelejen Belanda mengendus keberadaan Sudirman, ia dan pasukannya membuat tipu muslihat untuk menyelamatkan Sudirman. Satu diantara pasukannya menyamar menjadi Sudirman untuk mengalihkan perhatian Belanda. “Sudirman palsu dipilih yang paling mirip, dipakaikan iket kepala, mantel, juga ditandu dan dikawal ketat agar disangka Jendral Sudrman. Sementara Jendral Sudirman yang asli dindong,” kata dia.

Di tengah perang gerilya, Belanda mendapat tekanan keras dari PBB dan bangsa-bangsa di dunia. Belanda pada akhirnya mengakui kedaulatan RI meski dengan sejumlah syarat. Jendral Sudirman pun kembali dari perang gerilya dan di rawat di RS TNI di Magelang. Ia akhirnya meninggal di RS tersebut. “Ia ddimakamkan di Jogjakarta,” kata Arifin. (Gan)

Pdt Arifin Mayor TNI

Pdt Arifin Mayor TNI