PURBALINGGA – Sidang lanjutan kasus dugaan pemalsuan tandatangan surat izin belajar kepala dinas pendidikan nonaktif, Iskhak SPd MPd kembali digelar, Rabu (28/80), di Pengadilan Negeri Purbalingga. Sidang kali ini menghadirkan tiga orang saksi, Heny Ruslanto (pelapor sekaligus mantan kepala dinas Pendidikan Purbalingga), Ashari (Kabid Pendidik dan tenaga kependidikan Dindik Purbalinga) dan Supardan (kabid PAUD dan Pendidikan Non Formal Dindik Purbalingga). Dalam sidang ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengejar keterangan saksi yang membuktikan terdakwa telah menggunakan surat izin sebagai satu dari 17 syarat mengajukan izin belajar.

“Apakah saudara saksi tahu, surat izin tersebut berfungsi untuk apa. Apakan untuk syarat perkuliahan atau untuk syarat mendapatkan izin belajar,” kata JPU Enggar SH. Pertanyaan ini ditanyakan kepada tiga orang saksi secara terpisah yang dihadirkan dalam sidang ini. Ketiga orang saksi menjawab sama, surat izin ini digunakan sebagai satu dari sekian syarat untuk mendapatkan izin belajar dari bupati. Ini membuktikan, terdakwa telah menggunakan surat izin yang diduga bertandatangan palsu.

Keterangan ini dinilai penting karena sesuai pasal 263 KUHP, baik pelaku pemalsuan dokumen ataupun pengguna terkena sanksi pidana. DalamPasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat yang berbunyi “barang siapa membuat secara palsu atau memalsukan sesuatu yang dapat menimbulkan suatu hak, perikatan atau suatu pembebasan utang atau yang diperuntukkan sebagai bukti suatu bagi suatu tindakan, dengan maksud untuk menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakannnya seolah-olah asli dan tidak palsu, jika karena penggunaan itu dapat menimbulkan suatu kerugian, diancam karena pemalsuan surat dengan pidana penjara maksimum enam tahun; diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja dengan sengaja menggunakan surat yang isinya secara palsu dibuat atau yang dipalsukan tersebut, seolah-olah asli dan tidak palsu jika karena itu menimbulkan kerugian.”

Sementara itu, Heny mengatakan dirugikan secara immateriil. Heny mengatakan merasa dirinya diremehkan oleh perlakukan tiga orang yang namanya tertera dalam surat izin belajar tersebut, yaitu Iskhak, Rudiyanto dan Mardiyo. Ia merasa telah memberi toleransi dengan bersedia memberi tandatangan asal membubuhkan paraf dari Kabid Tendik meski surat izin ini diajukan sangat terlambat. Namun, ternyata muncul surat izin yang sama lengkap dengan tanda tangan atas nama dirinya. “Saya merasa diremehkan,” kata Heny.

Sementara saksi Ashari sebagai saksi kedua, mengatakan enggan memberikan paraf pada surat izin ini karena saat itu ia bukan bagian Tendik. Surat ini dibuat bulan Maret 2012. Saat itu Kabid Tendik Supardan, karena itu ia menyerankan Rudianto yang bertugas meminta paraf agar meminta paraf ke Supardan. Namun Supardan pun enggan memberi paraf karena sesuai peraturan yang baru, paraf untuk tenaga dindik yang bertugas di Kantor Dindik harus dilakukan Sekretaris Dindik. Selain itu, surat tersebut dinilainya tak sesuai waktunya.

Dalam persidangan juga terungkap, kasus ini terkuak dari kecurigaan Edhy Suryono Ssos, Kabid Pengembangan dan Diklat Pegawai BKD Purbalingga dan Wahyu Kontardi SH, Kepala BKD Purbalingga saat menerima berkas pengajuan izin belajar tiga orang ini. Edhy lalu mengkonsfirmasi Heny perihal tandatangannya dalam surat izin tersebut. Heny kemudian membantah dan mengatakan ia tak pernah bertandatangan dalam surat ini.

Masalah ini kemudian berkembang. Heny yang semula hanya meminta Iskhak meminta maaf atas surat ini kemudian melaporkan kepada bupati Heru Sudjatmoko lantaran Iskhak, menurutnya, tidak bersedia meminta maaf. Karena bupati tak merespon, ia melaporkan tiga orang yang tertera dalam surat izin belajar ke Polres Purbalingga. Kasus ini pun bergulir hingga ke persidangan. “Pernah datang sekali, tapi hanya saat istri saya umroh, yang tadinya dikira saya yang umroh,” kata Heny menjelaskan Iskhak tidak datang ke rumahnya untuk meminta maaf.

Ini lalu dibantah Iskhak. Menurut dia, kedatangan dia ke rumah selain melepas kepergian istri Heny umroh juga dalam rangka meminta maaf kepada Heny. “Itu bohong. Waktu itu saya datang dan meminta maaf,” kata Iskhak. (afgan86@yahoo.com)