nyaman
Oleh: Nyaman Agung

Purwokerto. Kota yang masih di serang kabut tebal pasukan dingin yang turun dari Gunung Slamet. Tidak memberi ampun pada gigil tulang kering, kerut paru, dan dengus hidung menghembuskan embun tubuh. Bahkan terkadang, tanpa perlu kabut, dingin sudah menyerang.

Dinding rumah pun tak berdaya memberi kehangatan. Terlebih lagi, rumah ini buatan ‘jaman Belanda’, begitu kami menyebut segala sesuatu yang sudah terlampau lama. Saking lamanya, terhembus cerita warga sekitar, bahwa rumah ini adalah kerajaan bagi mahluk halus dan tempatnya tepat disamping kamarku.

Suasana kamar yang dingin terasa. Dinding tebal buatan jaman Belanda dengan cat kapur putih tebal yang kusam dan mengelupas di sana sini. Dari kamar ukuran 2,5 meter persegi ini sayup terdengar suara piano klasik dimainkan. Denting marah dan sedih berubah megah penuh harap. Bagai “merakit mesin penenun hujan, hingga terjalin awan”, tembang Frau.

Frau mengiringi ketikan-ketikan tak kunjung selesai skripsi ku kala itu. Permasalahan klasik, deadline skripsi syarat mutlak kelulusan kuliah, seklasik denting piano yang mengalun di era milenium ini. Dan sudah barang pasti, ide keluar di penghujung dini hari dimana proses mulai mengetik dimulai pada jam 8 malam. Denting-denting klasik Starlite Carousel mengalun sepanjang malam di bulan-bulan itu.

***

Depok. Kota satelit Jakarta yang panas tak terkira. Tiga tahun kemudian pada sebuah komplek gedung yang memang sering dipakai untuk pelatihan.
“Permisi. Mas, saya belum dapet peralatannya”, ujar suara renyah itu yang terasa tak asing itu.
“Lho belum dapat? Memang waktu registrasi belum?”, sahutku tanpa memandangnya karena sibuk merapihkan perlengkapan dan peralatan yang berserakan.
“Belum Mas, saya terlambat datang, jadi kata panitia disuruh kesini, ketemu Mas-nya”, timpalnya.
“Namanya siapa? Memang dari mana terlambat?” ,tanyaku.
“Lani dari Jogja”, jawabnya.
“Ooh. Coba cari di daftar nama, kalau ada tandatangani”.
“Iya Mas, ini ada nama saya ada, Leilani Hermiasih, belum ditandatangani”.
“Ya sudah, tanda tangani. Jangan lupa ini peralatannya, ada topi, tas, t shirt dua macam; orange dan putih, jacket semi jas, note. Coba dicek semua, sama tidak dengan yang kamu tandatangani. Jangan sampai kurang”, aku mengingatkan.
“Iya mas, sudah kok, ada semua. Terima kasih ya Mas”, ujarnya sambil tersenyum.
“Iya, sudah sana. Jangan lupa acara nanti malam ya”.
“Iya Mas”.

Rasa-rasanya suara dan wajah ini tidak asing, batinku.

Proses seleksi penerima beasiswa pun berlanjut di KRI Banda Aceh milik Angkatan Laut. Seluruh ruangan terbuat dari baja. Begitu pintu ruangan di tutup, tak ada suara. Langit-langit penuh dengan saluran pipa berkelak kelok. Pandai-pandailah memilih jalur yang mirip labirin, sebab jika salah pilih jalur tujuan tidak akan sampai.

Malam terakhir seleksi penerima beasiswa. Semua peserta diwajibkan membuat kreativitas seni yang memiliki cerita tradisi suku bangsa yanga da di Indonesia. Semua sudah mulai berlatih dari hari pertama.

“Mas, ada keyboard kan ya?” tanya seorang peserta.
“Eh Lani. Iya ada. Kelompokmu mau pakai?”, timpalku.
“Iya Mas, sekalian ya ke sound systemnya. Sama nanti kita mau coba check sound, bisa tidak?” Pintanya.
“Iya, boleh, kamu latihan dulu saja, kalau sudah fix nanti kesini lagi, tinggal dimainkan”, jawabku.
“Oh ya sekalian sama lcd nya ya Mas, laptopnya nanti dari temen kelompok”.
“Sip”.
“Ok. Makasih Mas”, jawabnya lalu kemudian bergabung kembali dengan kelompoknya.
Malam harinya, semua peserta sudah berkumpul di anjungan KRI Banda Aceh. Komandan KRI Banda Aceh dan para perwira, Pejabat, tamu undangan sudah berkumpul. Malam inaugurasi bagi peserta seleksi. Ramainya tak terkira melepas penat karantina 10 hari.

Kelompok Lani tampil. Ia ternyata bermain keyboard, mengiringi lagu yang dinyanyikan kelompok lain dan penonton. Denting piano klasik yang dia pilih.
Gaya, penekanan, suasana dan denting klasik yang tak asing, batinku.
***
Sebulan setelah pelatihan. Kemarin, aku mendapat kabar kalau Frau kembali meluncurkan album. Langsung saja ku unduh, karena memang tidak dijual, bahkan boleh disebarkan. Wah senangnya, langsung ku dengarkan setelah selesai satu album.
“Wah, sudah lama tidak ada kabar dari Frau” batinku sambil mendengarkan lagu Empat Satu disela-sela rutinitas pekerjaan di tanggal tua. Memang hidup seperti permainan kartu empat satu, “Ambil dan buang, terdengar mudah tapi susah. Cari aman atau kau pilih menantang”.

Sembari mendengar denting denting klasik piano aku membaca sekilas prolog album ini. Sayup terdengar nuansa yang kini terdengar lebih mantap. Pada akhir prolog album tertulis nama asli si empunya album yang anehnya terasa tidak asing. Leilani Hermiasih.

Deg!

Terkejutku rasa Happy Coda.
Jakarta, 30 Agustus 2013.