ARIS WPAP
Oleh: Aris Andrianto

Berita terjebaknya seekor macan tutul (Panthera pardus melas) di hutan Desa Kuta Agung Kecamatan Dayeuhluhur Cilacap, cepat sekali menyebar. Di media sosial, bahkan lebih dahsyat lagi. Masyarakat desa setempat langsung mengunggah foto terjebaknya sang macan ke media sosial.

Sang macan terjebak jerat babi hutan pada Kamis (26/6) lalu. Setelah dibius oleh dokter hewan, macan lalu dibawa ke Kebun Binatang Serulingmas Banjarnegara untuk diobservasi.

Tak hanya menghebohkan masyarakat desa setempat, berita ini sampai juga ke telinga sejumlah pejabat. Bukannya ingin melindungi dengan melepaskanliarkan ke habitat asalnya, sejumlah pejabat justeru ingin memelihara macan itu untuk dijadikan koleksi pribadi.

Begitu juga dengan pengelola Kebun Binatang Serulingmas. Mereka ingin sang macan menjadi koleksi di kebun binatang itu. Perebutan binatang yang masuk kategori dilindungi itu pun terjadi.

Padahal, sang macan oleh masyarakat adat Desa Kuta Agung sudah dianggap sebagai penjaga hutan. Penjaga mata air desa itu. Mereka menyebutnya Karuhun, atau sang raja hutan. Mereka percaya Karuhun merupakan leluhur mereka yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Hutan yang leastari itulah yang selama ini membuat petani di desa itu tetap hidup. Air melimpah. Sawah bisa mendapat air sepanjang tahun.

Sebagai hewan yang dikeramatkan, macan merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat. Tak ada yang berani masuk hutan untuk menebang pohon sembarangan. Mereka percaya tulah atau bisa mendapat kesialan jika membunuh sang macan.

Kepercayaan yang sudah dipelihara bertahun-tahun itu, kini sedang mendapat tantangannya. Gonjang-ganjing di mana sang macan akan dilepas, membuat warga desa itu resah. Harapan mereka hanya satu, karuhun dilepaskan kembali ke hutan habitat aslinya.

Jika tidak, mereka percaya anggota kelompok sang macan lainnya akan menyerang warga untuk balas dendam. Hal itu didasarkan pada pengalaman 10 tahun lalu. Saat itu ada macan mati karena makan umpan babi hutan yang mengandung racun. Tak lama setelahnya, warga desa mendapat teror dari macan lainnya.

Berkaca dari kearifan lokal itu, hendaknya pemangku kebijakan mendengar harapan warga Kuta Agung. Biarkan mereka hidup selaras dengan alam mereka. Toh, mereka juga selama ini tak pernah berkonflik dengan sang macan, bahkan percaya dengan perlindungan si raja hutan itu.

Mengembalikan macan tutul itu ke habitat aslinya, merupakan jalan terbaik. Menjaga karuhun, juga sama dengan menjaga hutan. Menjaga ketersediaan air bersih. (Lomba penulisan kreatif #FestivalMedia2013)