Ibu Buta

Purwokerto – Bangunan reot dari anyaman bambu itu masih berdiri tegak di antara kepungan pepohonan saat memasuki bagian muka rumah milik seorang tuna netra, Sarmi, 35 tahun. Warga Grumbul Karangdadap RT 008/ RW 02 Desa Watuagung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas ini sehari-hari hidup bersama seorang anak perempuannya, Ratnasari (8) yang kini duduk di bangku kelas II SD Watuagung.

Dari bilik bambu yang dibangun gotong royong warga setempat sekitar tahun 2000-an, Sarmi berteduh dari air hujan yang kerap masuk melalui celah asbes yang retak akibat ranting pohon yang jatuh di atap rumah. Tak hanya itu, keroposnya dinding bambu dan triplek menjadi pemandangan biasa di rumah berukuran 3 x 5 meter. “Ya kalau dibilang terasa dingin ya tidak, kan sudah biasa,” jelas Sarmi yang siang itu duduk di dipan bagian depan rumah, Kamis (17/10).

Rumah Sarmi hanya terbagi dua bagian, bagian depan dan belakang. Bagian depan, biasanya menjadi tempatnya bercengkrama dengan anak semata wayangnya. Sedangkan bagian belakang, digunakannya untuk dapur sekaligus tempat tidur. Tak hanya itu, dia pun harus ke rumah tetangga sekitarnya untuk sekedar kebutuhan mandi cuci dan kakus. “Kalau cuci baju dan piring biasanya disamping rumah, tetapi kalau mandi ya harus ke tetangga,” kata dia menjelaskan dalam bahasa banyumasan.

Siang itu, Sarmi menyalakan pawon yang menjadi satu-satunya alat untuk memasak. Kepulan asap membumbung di antara langit-langit rumah beralas tanah. Ditemani Ratna, Sarmi masih berusaha memasak dengan keterbatasan penglihatan. “Sejak dulu saya belum pernah memeriksakan mata, karena memang tidak punya biaya,” kata Sarmi.

Sejak kecil, Sarmi mengaku tidak pernah sekolah. Persoalan kemiskinan menjadi alasan mendasar bagi anak yatim piatu ini. Bahkan sejak kecil, Sarmi mengaku sudah tidak bisa melihat. “Waktu kecil saya pernah sakit terus sampai sekarang sudah tidak bisa melihat lagi,” katanya polos.

Segala macam aktivitas pun dilakukannya sendiri, mulai pekerjaan rumah tangga hingga mencari uang. Mencari uang dalam keterbatasan dilakoni Sarmi sejak lama dengan bekerja menjadi kleyang (istilah untuk pencari daun cengkih). Dalam sehari, ia mengaku mencari daun cengkih untuk dijual ke pengepul di dekat rumahnya. “Sehari-hari saya hanya menjadi kleyang. Dalam sehari saya hanya bisa mendapat sekitar 3 kilogram daun cengkih. Harga daun cengkih sekitar Rp 1.500 per kilogram,” ujarnya didampingi anaknya.

Kini, Sarmi praktis hidup dengan ketergantungan dari masyarakat sekitar rumah yang kondisinya tak jauh berbeda dengan dirinya. Meski begitu, ia tetap menjalani hidup apa adanya di desa yang dikelilingi kawasan hutan. “Selama ini, saya banyak dibantu tetangga untuk makan, karena penghasilan saya sendiri tidak cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Suwarno, 47 tahun, tetangga Sarmi mengatakan, ada banyak warga miskin di desa itu. “Mereka tinggal di hutan-hutan dan jauh dari peradaban,” katanya.

Meski tak jauh dari kota Purwokerto, potret kemiskinan begitu lekat di daerah ini. Hampir tak ada rumah yang lantainya sudah dipleseter.