pipit

oleh Fitri Nurhayati
Guru SM-3T Kabupaten Ngada, NTT

Dengan mengenakan seragam merah putih seorang siswa nampak bersemangat datang ke sekolah. Seperti yang dilakukan anak-anak pada umumnya mereka datang bersama teman-temannya. Waktu masih menunjukkan pukul 06.20 WITA, masih terbilang pagi untuk anak-anak berangkat sekolah. Meski begitu tak sedikit pula dari mereka yang sudah datang lebih dulu karena mendapat giliran piket untuk membersihkan halaman sekolah. Tak lupa guru piket pun mengawasi setiap kerja mereka.

Saya memperhatikan anak-anak SD yang sangat rajin ini, namun seketika terlintas sebuah keheranan saat melihat seorang guru yang memukul muridnya. Terdengar samar-samar, guru itu juga mengeluarkan omelan karena siswa didiknya ini dianggap datang terlambat. Dengan seketika tiga anak yang baru datang ini berbaris untuk mendapat giliran dijewer dan dipukul menggunakan sebilah kayu. Setelah itu guru piket juga melakukan hal yang sama kepada siswa yang sedang memungut sampah di bawah pohon. Satu per satu siswa ini dipukul karena membersihkan halaman tidak menggunakan sapu lidi.

Alasan yang sepele untuk menjatuhkan sanksi kepada anak usia SD ini sempat menjadi perbincangan saya dengan rekan guru selama perjalanan menuju SMA, tempat kami mengajar. Tindakan guru yang kami jumpai ini sebenarnya sudah terbilang tindak kekerasan di lingkungan sekolah. Ada sedikit keheranan karena perlakukan ini jarang kami jumpai di Jawa.

Ternyata di Indonesia bagian timur pendidikan masih erat kaitannya dengan tindak kekerasan yang telah dianggap lumrah. Alhasil tercipta pula generasi yang mempunyai perilaku sama dengan pola didikan yang didapatnya di sekolah.

Kekerasan guru kepada siswa dianggap lumrah karena hampir semua sekolah juga menerapkan pola asuh yang sama. Baik kepada siswa SD, SMP, maupun SMA. Jarang atau bahkan nyaris tidak ada sanksi yang diberikan kepada guru seperti yang diterapkan di Jawa, mengingat kebiasaan ini sudah mendarah daging dalam dunia pendidikan di Indonesia Timur.

Awalnya ada sebuah keanehan saat saya menjumpai seorang guru menjewer, memukul, dan membentak siswa. Alasannya karena siswa melakukan kesalahan atau hanya sekedar tidak mampu memahami materi pelajaran dengan baik. Selama berada di NTT perlakuan ini nyaris saya jumpai setiap hari. Bahkan tidak hanya dilakukan guru kepada siswanya, namun orangtua kepada anak pun juga sama. Saya sempat bertanya kepada guru dan orangtua mengapa anak harus diperlakukan dengan keras.

Tujuannya adalah agar anak menjadi pribadi yang penurut, rajin, dan disiplin. Namun pada kenyataannya bukan tujuan utama yang tercapai, malahan tercipta generasi yang berani membangkang, berwatak keras, dan bermental ciut dalam proses pembelajaran di sekolah.

Akibat dari kebiasaan ini siswa semakin merasa terbebani karena harus memenuhi tuntutan sekolah untuk menjadi pribadi yang rajin, disiplin, dan pandai di bawah tekanan pola didik yang keras. Padahal usia sekolah adalah masanya pencarian jati diri seorang anak. Mereka dalam tataran identifikasi atau proses meniru apa yang dilihatnya. Tugas guru dan orangtua hanya mengarahkan atau mengawasi proses perkembangan mereka, bukan meminta banyak tuntutan kepada anak.

Sekalipun tujuannya dianggap baik, namun seharusnya dilakukan dengan cara pendekatan kepada anak, bukan kekerasan secara fisik dan psikis.

Memang tidak salah dalam kehidupan kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali, namun pembentukan karakter anak tidaklah demikian. Karakter merupakan hasil pilihan dan cara pembentukannya. NTT memang dikenal dengan pola pendidikannya yang keras menyesuaikan dengan karakter penduduk yang keras pula. Berbeda dengan di Jawa, sekali saja guru memukul siswa maka urusannya akan berkepanjangan.

Kebiasaan memukul dan menjewer siswa ini tidak seimbang dengan tingkat kesadaran akan pentingnya proses pendidikan demi perkembangan si anak. Alhasil tercipta generasi yang hanya bisa tunduk terhadap perintah tanpa mempertimbangkan manfaatnya bagi diri sendiri. Pola pikir anak tidak dapat berkembang dengan baik karena hanya menjadi objek dari pola asuh yang salah. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk berfikir kritis atau menikmati masa-masa keemasaannya, hanya dijejali dengan tuntutan dari guru atau orang tua saja.

Padahal lingkungan sekolah merupakan satu wadah yang dapat memberi pengaruh besar terhadap pendidikan karakter anak. Hal ini bisa diwujudkan dengan dukungan guru yang setiap perkataannya didengar oleh anak. Kecerdasan siswa tidak hanya diukur dengan hasil akademik yang memuaskan, namun juga ketercapaian pembentukan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka ketimbang mengatasi persoalan bagaimana untuk memanfaatkan keadaan dengan keterbatasan yang ada. Atau kebanyakan orang hanya mengukur tingkat kecerdasan dari besarnya materi yang didapat, dalam hal ini adalah nilai akhir di sekolah. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkanlah yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menciptakan karakter keras.

Apalagi mulai dari keluarga sudah diterapkan pola asuh yang keras terhadap anak alhasil mereka membawanya sampai di sekolah. Sesampai di sekolah anak juga mendapat perlakuan yang sama dari gurunya masing-masing. Begitu seterusnya yang terjadi dari generasi ke generasi di NTT. Dampak ini kemudian dikembalikan pada anak dengan label kecerdasan rendah dan lambat dalam menerima pelajaran. Kalau pun banyak anak yang melakukan pelanggaran sekolah atau tidak disiplin ini menjadi persoalan yang wajar. Mengingat usia sekolah merupakan masa pencarian jati diri seorang anak. Apabila di beberapa daerah seperti halnya di Indoneia Timur terjadi kenakalan remaja yang terbilang tidak wajar, saya pikir ini merupakan kegagalan pola asuh baik dalam keluarga maupun sekolah.

Karakter tidak bisa diwariskan, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah suatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari. Perlu diketahui bahwa anak mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter apabila hal itu diupayakan. (*)