Penolakan Tambang Semen

KEBUMEN – Setelah mendapatkan penolakan dari sejumlah organisasi peduli lingkungan, kini giliran masyarakat di sekitar lokasi penambangan menolak rencana pendirian pabrik PT Semen Gombong. Mereka khawatir, dengan adanya penambangan bukit kapur daya dukung lingkungan akan menurun dan mengurangi pasokan air yang selama ini diandalkan ribuan masyarakat setempat.

“Sejak awal kami menolak dengan tegas rencana penambangan bukit kapur Gombong,” kata Koordinator Komunitas Masyarakat Kawasan Karst Gombong Selatan, Supriyanto, Selasa (20/11).

Ia mengatakan, saat ini ada 35 relawan anggota komunitas yang secara sukarela melakukan sosialisasi tentang pentingnya kawasan karst. Pada zaman Soeharto dulu, mereka tak berani melawan karena represifitas aparat saat itu.

Rencana penambangan pabrik semen, kata dia, sudah dimulai sejak 1996. PT Semen Gombong sebagai investor, sudah membebaskan lahan untuk lokasi pabrik dan lahan karst untuk ditambang.

Masih menurut Supriyanto, pemerintah daerah saat ini lebih condong kepada kepentingan pemodal. Padahal, kata dia, bencana yang lebih besar di masa datang jauh lebih besar dampaknya bagi masyarakat sekitar lokasi tambang dan Kebumen.

Ia menambahkan, di lokasi tambang ada sumber mata air Banyumudal dan Sikayu. Dua sumber mata air yang berasal dari air bawah tanah yang mengalir dari dalam gua ini, kini sudah dimanfaatkan PDAM Kebumen untuk mencukupi air bersih di lima kecamatan.

“Minimal ada 1.200 rumah yang menikmati air dari karst Gombong,” katanya.

Lima kecamatan yang selama ini dialiri air bersih PDAM yakni, Kecamatan Gombong, Karanganyar, Buayan, Kuwarasan dan Puring. Sebagian lagi air sudah mengalir di Kecamatan Ayah dan Rowokele.

Ia tak percaya ada teknologi yang bisa mereduksi dampak bagi lingkungan seperti banjir dan kekurangan air bersih. “Karst Gombong merupakan daerah tangkapan air, kalau diambil kapurnya, air akan langsung ke permukaan dan menjadi banjir seperti di Kendeng Pati,” katanya.

Thomas Suryono, salah satu peneliti dari Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, membuat simulasi matematis potensi hilangnya air jika pabrik jadi dibangun. “Berdasarkan perhitungan kami, 1,75 juta meter kubik air akan berubah menjadi air permukaan yang bisa menjadi pemicu banjir,” katanya.

Asumsinya, kata dia, nilai porositas batugamping penyusun karst Gombong mencapai 20 persen. Jika curah hujan rata-rata dalam setahun mencapai 200 milimeter maka air hujan tersebut setengahnya akan menjadi air permukaan dan setengahnya lagi terserap tanah.

Setelah itu, asumsi lahan calon tambang batu kapur seluas 1.750.000 meter persegi. Jika penambangan akan mengupas batu kapur setebal lima meter, maka air hujan yang tidak terserap mencapai 1.750.000 meter kubik. “Air yang tidak terserap inilah yang akan menjadi banjir bandang,” katanya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kebumen, Masagus Herunoto mengatakan, IMB pembangunan pabrik sudah keluar. “Kalau Amdal masih disusun,” katanya.

Ia mengatakan, penyusunan oleh BLH masih dalam tahap awal. Menurut dia, penyusunan Amdal akan memperhatikan kawasan tersebut sebagai kawasan lindung dan kawasan penyerap air. Dengan Amdal, kata dia, akan terlihat dampaknya seperti apa untuk lingkungan dan masyarakat.

Geologist PT Semen Gombong, I Wayan Tirka Laksana membantah ada gua di bukit kapur yang akan ditambang. “Tidak ada gua di lahan kami,” katanya.

Ia menyebutkan, bukit kapur yang akan ditambang hanya sekitar 3-5 persen dari total kawasan karst Gombong yang luasnya mencapai 4.894 hektare. Menurut dia, lokasi tambang PT Semen Gombong berada di kawasan timur karst Gombong. Sedangkan gua yang terbentuk puluhan juta tahun lalu itu, disebutnya berada di kawasan barat.

PT Semen Gombong merupakan anak perusahaan Grup Medco milik pengusaha Arifin Panigoro. Total luas lahan yang akan ditambang ditambah pabrik mencapai 500 hektare di Kecamatan Buayan dan Rowokele. Pendirian pabrik saat ini sedang menunggu pembuatan Amdal.