Pantomim Purwokerto

PURWOKERTO – Farel, 11 tahun, tak bisa berhenti tertawa. Duduk lesehan di barisan paling depan, matanya tak pernah lepas dari mimer yang ada di atas panggung. Ia menikmati betul pertunjukan pantomim dalam Purwokerto Pantomime Series 2013, Sabtu (30/11) malam.

Sejumlah mimer—sebutan untuk seniman pantomim—dari berbagai komunitas pantomim, membawakan repertoar yang mengocok perut. Mimer kawakan, Septian Dwi Cahyo, melengkapi parade pantomim yang sudah tiga tahun rutin digelar ini. “Pantomim merupakan seni imajinasi dan ini penting untuk anak-anak bisa berimajinasi,” kata Septian usai pertunjukan, Sabtu (30/11).

Ia prihatin, saat ini anak-anak lebih suka tawuran dan bermain gadget. Akibatnya, daya imajinasi anak semakin menurun. Tak ada kreatifitas dan minim solusi.

Pantomim, kata dia, dasarnya adalah bermain imajinasi. Imajinasi tersebut penting untuk pengembangan otak kanan. “Saya akan mengembangkan sekolah pantomim untuk anak SD agar mereka lebih pede dan kaya akan imajinasi,” katanya.

Septian dalam pertunjukan itu membawakan sejumlah repertoar. Di antaranya berjudul cinta remaja. Dalam repertoar tersebut, ia menggambarkan wajah anak muda sekarang yang mudah putus asa ketika ditinggal pacarnya.

Repertoar lain yang mampu membuat penonton hanyut dibawakan oleh Bengkel Mime Theater Jogjakarta. Mereka membawakan repertoar Tiga Bebek Kecil. Kisah tentang petualangan tiga bebek di hutan rimba.

Programmer PPS 2013, Chandra Iswinarno mengatakan, acara tersebut digelar sebagai kritik matinya seni pertunjukan di Purwokerto. “Tidak ada perkembangan yang berarti dari seni pertunjukan terutama teater,” katanya.

Project Officer PPS 2013, Nurhendri mengungkapkan, ajang Purwokerto Pantomime Series yang digelar ketiga kalinya ini bisa menjadi ajang kumpul untuk berbagi ide dan gagasan. Tak hanya itu, parade pantomim yang selalu menjadi ikon acara, juga tetap digelar.

“PPS 2013 ini kembali digelar karena animo masyarakat yang cukup tinggi pada PPS 2011 dan 2012. Hal itu menjadi penyemangat kami untuk menghidupkan seni pantomime,” kata dia.

Nurhendri yakin, seni pantomim dapat dengan mudah berkembang Purwokerto. Salah satu indikasinya, pentas jalanan yang digelar oleh komunitas Sedulur Pantomim Purwokerto di ruang-ruang publik seperti Alun-alun, pelataran GOR Satria, warung dan kedai selalu dipenuhi penonton. “Bahkan mereka mampu menikmati suguhan dan pesan yang ingin disampaikan,” ucapnya.

Manager Officer Saga Khatulistiwa, Sari Handayani mengemukakan, gelaran ini merupakan kelanjutan dari workshop tahun lalu. Dia berharap, hal ini akan menjadi pembuka warna baru kesenian di Banyumas. “Kehadiran Purwokerto Pantomime Series menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan gairah kesenian di Banyumas,” kata dia.

Sari menilai, perkembangan seni mimik tahun ini cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari kelahiran komunitas Sedulur Pantomim Purwokerto dan pentas jalanan yang rutin digelar. Tak hanya itu, sejumlah sekolah dan pegiat seni di kampus mulai melirik seni yang masih tergolong jarang dipentaskan di Purwokerto ini.

Senja Bahari