DSC_0282

BANJARNEGARA – Rumah Budaya Nagasasra Banjarnegara menggelar festival wayang kulit untuk anak-anak. Sejumlah delapan dalang cilik akan memainkan lakon wayang secara berurutan selama sehari penuh.

“Pagelaran dalang cilik ini sebagai ruang apresiasi bagi para penerus seni pedalangan itu” Kata penggagas Rumah Budaya Nagasasra Desa Merden Kecamatan Purwanegara Banjarnegara, Selasa (3/12).

Ia mengatakan, seni pertunjukan, khususnya pertunjukan seni tradisi saat ini mengalami stagnasi. Ia tak lagi menjadi pertunjukan yg banyak dinikmati oleh masyarakat. Jika dulu beragam pertunjukan seni tradisi sering dijumpai pada acara hajatan warga di kampung-kampung, sekarang hampir tak pernah ada pertunjukan seni tradisi yg bisa dinikmati. Kalau toh ada, setahun sekali dalam acara ritual atau peringatan hari tertentu.

Menurut dia, seni tradisi sesunggguhnya bukan hanya hiburan semata, ia juga membawa nilai dan beragam makna yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sayangnya saat ini sulit dicari pengetahuan tentang itu.

Masih menurut Budhi, biasanya anak muda menjadi kambing hitam dari meredupnya seni tradisi. Anak muda dianggap tidak peduli dengan warisan kebudayaan masa lalu, anak muda dianggap lebih suka budaya pop yang modern dibanding seni budaya tradisional yang dianggap kuno.

“Ya, anak muda kerap dituding tidak mau meneruskan seni tradisi. Namun, sekarang dibalik, jika anak-anak muda mau mengembangkan seni tradisi, mana warisan para orang tua atas pengetahuan dalam bentuk teks dan dokumen yang bisa menjadi sumber pengetahuan untuk pelestarian seni tradisi itu? Gak banyak, kecuali cerita para pelaku seni tradisi, yang juga kurang lengkap,” ujarnya.

Menjawab tantangan pengembangan seni tradisi dan budaya itu, Budhi Hermanto beserta sejumlah anak muda dan pegiat seni tradisi di Merden, Banjarnegara menggagas berdirinya rumah budaya “Nagasasra” sebagai wadah pendokumentasian seni tradisi dan kebudayaan yang pernah ada dan berkembang di sekitarnya.

“Kami sedang memproduksi film dokumenter tentang batik tulis di desa kami yang sudah ada sejak tahun 1920, kami juga mendokumentasikan wayang jawan, yakni wayang kulit ala Banyumasan yang hampir punah. Pada tanggal 3-4 Desember 2013 besok, kami bikin pagelaran dalang cilik sebagai ruang apresiasi bagi para penerus seni pedalangan itu,” katanya.

Budhi menambahkan bahwa, Rumah Budaya Nagasasra telah menyelenggarakan lokalatih membatik tulis yang diikuti olej sejumlah anak-anak muda di Merden dan sekitarnya. Rumah Budaya Nagasasra juga telah mengajak serta para pendidik (guru) SD se-kecamatan Purwangera terlibat dalam workshop seni tradisi dan pengembangannya dalam dunia pendidikan.

Sukarso, 52 tahun, Kepala Desa Merden, Kecamatan Purwangera, Kabupaten Banjarnegara, ia menyatakan apresiasinya terhadap sejumlah anak muda di desanya yang memulai pelestarian seni tradisi dan budaya.

“Beragam rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Rumah Budaya Nagasasra di Desa Merden ini sangat positif. Semoga hal ini terus berkelanjutan dalam upaya pelestarian seni tradisi dan kebudayaan,” katanya.

Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno menanggapi positif geliat anak-anak muda dalam kegiatan pelestarian seni tradisi dan kebudayaan itu.

“Tentu saya sangat senang dan berterimakasih jika banyak anak muda yang masih peduli dan mau mengembangkan seni tradisi dan budaya lokal. Namun itu membutuhkan konsistensi dan keseriusan. Tantangan tidak sederhana, karena konsistensi itu mensyaratkan kesabaran, ketelatenan. Harus tahan terhadap proses,” katanya.

Menurut Hadi, salah satu persoalan dalam pelestarian seni tradisi adalah jika menjadikan seni tradisi itu hanya sebagai seni pertunjukan, tanpa memahami ritual dan makna (intangibel) yang terkandung. Turunannya dalam perilaku kehidupan keseharian.

“Dahulu seni tradisi berkembang karena ia berwanfaat sebagai piwulang bagi kehidupan, bahkan kadang sebagai media kritik atas laku hidup manusia,” ujarnya.

Venus Utara