Asap Gunung Slamet

Purwokerto – Alat seismometer untuk mengukur aktivitas Gunung Slamet dipasang di daerah Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Purbalingga, Sabtu (15/3).

Kepastian tersebut dikemukakan anggota Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Yasa Suparman usai Rapat Koordinasi antisipasi penanganan ancaman bencana erupsi Gunung Slamet di Purwokerto.

“Alat tersebut sudah dipasang hari ini oleh anggota tim lainnya. Hari ini dipasang di daerah Bambangan. Kemungkinan di ketinggian antara 1500-1600 meter di lereng Gunung Slamet atau radius 4-5 kilometer dari kawah,” katanya, Sabtu (15/3).

Ia mengatakan, selama ini sudah ada tiga seismometer yang dipasang di titik sebelah utara daerah pos pantau Gambuhan Pemalang. Penambahan alat tersebut, kata Yasa, dilakukan sesuai prosedur yang ada.

“Seiring peningkatan aktivitas, butuh tambahan alat untuk mengukur aktivitas Gunung Slamet. Setelah Bambangan, tidak menutup kemungkinan akan dipasang di wilayah selatan Gunung Slamet dari arah Baturraden, dan Sawangan dari Brebes,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Sarwa Permana mengatakan, sebanyak 34 desa berpotensi merasakan dampak aktivitas Gunung Slamet.

“Sedikitnya sekitar 174.612 jiwa berpotensi merasakan dampak langsung bencana Gunung Slamet,” katanya.

Jumlah jiwa tersebut tersebar di 34 desa yang termasuk dalam 11 kecamatan di lima kabupaten di kawasan lereng Gunung Slamet, yakni Banyumas, Brebes, Pemalang, Purbalingga dan Tegal.

Ia menambahkan, status waspada Gunung Slamet saat ini sebenarnya belum membutuhkan pengungsian. Sebab, menurutnya, karakteristik Gunung Slamet sangat berbeda dari gunung lainnya.

“Yang jadi persoalan sebenarnya terkait penyampaian informasi mengenai titik kumpul, jalur evakuasi. Kalau instruksi pengungsian kami menunggu dari PVMBG,” ujarnya.

Dia mengemukakan, belajar dari pengalaman Gunung Kelud dan Sinabung, masyarakat di sekitar lereng Gunung Slamet harus siap dalam kondisi terburuk sekalipun. Saat ini, radius 2 kilometer dari kawasan kawah Gunung Slamet menjadi area steril yang terlarang untuk aktivitas masyarakat. Meski begitu, ia mengatakan, pemukiman warga lereng Gunung Slamet dalam radius aman.

“Kebanyakan desa berada di jarak 6 kilometer dari Gunung Slamet. Tetapi, nanti bila terjadi kenaikan status, kemungkinan akan banyak desa yang harus dikosongkan,” ucapnya.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Loni Suntiyaki mengatakan, beberapa desa di lereng Gunung Slamet yang masuk Kabupaten Banyumas beberapa hari ini merasakan hujan abu.

“Hujan abu berlangsung cepat di beberapa desa yang berada di daerah lereng, seperti Desa Sikapat Kecamatan Sumbang dan juga beberapa desa sekitar. Tetapi hujan abu berlangsung cepat dan langsung hilang karena hujan kemudian mengguyur daerah lereng. Saat ini, kami sudah membuat beberapa posko di beberapa desa sekitar lereng Gunung Slamet,” ujarnya.