Asap Gunung Slamet

PURBALINGGA – Lava pijar mulai keluar dari kawah Gunung Slamet selama dua hari terakhir ini. Lava pijar terlontar sejauh 100-200 meter dari mulut kawah.

“Selain debu dan pasir, lava pijat juga ikut terlontar,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Muhammad Hendrasto, saat dihubungi, Ahad (16/3).

Ia mengatakan, letupan lava pijar mulai terlihat sejak Jumat malam. Menurut dia, tidak semua gempa letusan membawa material lava pijar yang secara visual terlihat dari bawah. Semakin kuat daya letusnya, lava pijar bisa dilihat secara langsung dari pos pemantauan.

Selama ini, kata dia, gunung dengan ketinggian 3.428 mdpl itu lebih sering mengeluarkan asap sulfatara berwarna putih. Lava pijar akan terlihat jika letupan asap sulfatara berwarna hitam pekat.

Masih menurut Hendrasto, durasi letusan lava pijar cukup singkat yakni sekitar 10-20 detik. Meski terlihat ada lontaran lava pijar, kata dia, status Gunung Slamet masih waspada. “Belum ada peningkatan status. Zona steril masih dua kilometer dari puncak,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan di Pos Gunung Api Slamet Gambuhan, aktivitas vukanik Gunung Slamet masih fluktuatif. Pengukuran pada Jumat lalu tercatat ada 171 kali gempa letusan. Sedangkan pada Ahad ini, tercatat 57 kali gempa letusan dan 51 kali gempa hembusan. Tinggi asap sulfatara mencapai satu kilometer.

Koordinator Pos Pendakian Gunung Slamet di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga Sugeng Riyadi mengatakan, dari Pos Bambangan juga sesekali terlihat letupan lava pijar. “Biasanya terlihat saat malam hari jika langit cerah,” katanya.

Ia mengatakan, penduduk Bambangan tak merasa panik dengan letupan lava pijar tersebut karena dianggap sudah biasa. Menurut dia, pada Sabtu malam terlihat tiga kali letupan lava pijar yang bisa dilihat dengan mata telanjang. “Pada 2009 lalu juga terjadi hal yang sama,” katanya.