Penukaran uang

PURWOKERTO – Menenteng tas besar, Retno Sulistyowati, bergegas menuju loket antrean di Kantor Bank Indonesia Purwokerto, Senin (7/4) pagi. Ia baru kali ini pergi ke bank sentral untuk menukarkan uang. Sempat kikuk, ia sesekali bertanya ke petugas keamanan yang berjaga pagi itu.

“Untuk persiapan pesta politik. Kamu tahulah,” ujar Retno, tersipu-sipu.

Pagi itu, ia membawa uang pecahan Rp 100 ribu sejumlah Rp 40 juta. Uang tersebut akan dipecah menjadi Rp 20 ribu sejumlah Rp 30 juta. Sementara sisanya sejumlah Rp 10 juta, akan dipecah dalam recehan Rp 10 ribu.

Pagi itu Retno tak sendirian. Seratusan orang tampak antre untuk menunggu panggilan pegawai BI. Tanpa pengawalan, uang sejumlah puluhan hingga ratusan juta ditenteng begitu saja dalam tas ransel.

Joko, salah satu penukar uang mengatakan, ia merupakan salah satu tim sukses yang diminta salag seorang calon legislator untuk menukarkan uangnya. “Bagi-bagi uang menjelang pemilihan itu sudah wajar kok mas,” ujarnya, sambil menunjukkan uang yang ingin ditukarnya.

Menurut dia, masyarakat saat ini masih banyak yang berharap ada serangan fajar menjelang pemilihan. Ia menambahkan, calon legislator tak akan menukarkan sendiri uangnya karena takut ketahuan Panitia Pengawas Pemilihan Umum.

Kepala Kantor Bank Indonesia Purwokerto, Rahmat Hernowo mengatakan, penukaran uang dalam beberapa bulan terakhir memang mengalami peningkatan. “Kami mencatat, ada orang-orang yang tidak pernah menukarkan uang di sini, sekarang terlihat menukarkan uang,” katanya.

Ia menyebutkan, pada Januari lalu, uang pecahan Rp 100 ribu yang dipecah ke jumlah yang lebih kecil mencapai Rp 119 miliar. Sedangkan uang Rp 50 ribu yang ditukarkan mencapai Rp 131 miliar. Jumlahnya meningkat pada Maret yang mencapai Rp 210 miliar untuk pecahan uang Rp 100 ribu dan Rp 227 miliar untuk penukaran uang pecahan Rp 50 ribu.

Menurut dia, BI tidak bisa menyimpulkan apakah uang tersebut untuk biaya politik uang atau untuk kepentingan lainnya. “Untuk tujuan apa penukaran itu, kami tidak tahu,” ujarnya.

Deputi Kepala BI Purwokerto, Fadhil Nugroho menambahkan, selain penukaran uang, ada anomali lain menjelang pemilihan umum. “Ternyata, mukena dan nangka muda menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi di Banyumas pada bulan Februari,” katanya.

Padahal, kata dia, mukena biasanya banyak dibeli saat menjelang hari raya maupun puasa. Sementara pada bulan Maret, penyumbang inflasi terbesar bukan datang dari kelompok komiditas makanan.

Bensin dan pulsa, kata dia, masuk dalam 10 besar penyumbang inflasi. Padahal, dua komiditas ini jarang masuk dalam 10 besar penyumbang inflasi Banyumas.

ARIS ANDRIANTO