AAN20131115002

KEBUMEN – Belasan petani dari lahan konflik kawasan Urut Sewu Kebumen mendatangi presiden terpilih Joko Widodo. Mereka meminta Jokowi menyelesaikan sengketa agraria yang sudah puluhan tahun mereka hadapi melawan klaim TNI Angkatan Darat.

“Kami petani Urut Sewu menghadap Jokowi bersama dengan perwakilan masyarakat Lereng Pegunungan Kendeng untuk mengadukan permasalahan kami,” kata juru bicara Urut Sewu Bersatu, Widodo Sunu Nugroho, saat dihubungi Senin (8/9).

Ia mengatakan, perwakilan petani Urut Sewu yang berangkat ke Jakarta sebanyak 16 orang. Mereka ditemui Jokowi pada (5/9) lalu di Kantor Gubernur DKI Jakarta.

Menurut dia, dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan persoalan yang dihadapi petani akibat latihan militer TNI AD dan klaim sepihak TNI atas tanah pantai sepanjang 324 kilometer itu. Mereka juga mengeluhkan adanya tambang pasir besi oleh PT Mitra Niagatama Cemerlang yang diduga merupakan bisnis TNI.

Ia mengatakan, Jokowi menerima mereka selama setengah jam. Selain memaparkan kondisi terkini, mereka juga memperlihatkan foto-foto kerusakan lahan pertanian akibat latihan militer, korban ledakan peluru, dan pembangunan pagar pembatas oleh TNI.

Ketua Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan, Seniman mengatakan, kepada Jokowi mereka meminta agar Jokowi bisa menghentikan proses pengajuan hak pakai tanah oleh TNI terhadap tanah masyarakat di Kecamatan Mirit. “Kami juga meminta penghentian pemagaran tanah yang hingga saat ini masih berlangsung,” katanya.

Seniman menambahkan, petani juga menuntut pencabutan izin penambangan pasir besi di wilayah pantai karena bisa merusak pingkungan. Tuntutan lainnya, mereka meminta agar TNI tidak menjadikan kawasan Urut Sewu sebagai tempat latihan militer dan uji coba senjata berat.

“Kami juga meminta presiden terpilih agar mencabut tanah Urutsewu dari daftar inventaris tanah asset kodam IV/Diponegoro,” katanya.

Selain petani Urut Sewu, masyarakat lereng Pegujungan Kendeng yang diwakili Sedulur Sikep Rembang juga menyampaikan keluhannya kepada Jokowi. “Penambangan karst untuk pabrik semen akan mematikan mata air yang saat ini digunakan oleh ribuan maayarakat,” kata juru bicara Sedulur Sikep, Gunretno.

Selain itu, kata dia, penambangan karst juga akan mematikan pertanian yang memanfaatkan air tersebut. Gunretno juga membawa air dalam kendi dan jamu temulawak untuk Jokowi. “Ini simbol agar Jokowi ikut menjaga mata air agar tidak rusak akibat penambangan karst untuk pabrik semen,” katanya.

Dalam kesempatan ini juga disampaikan kertas posisi dari Gerakan Samarinda Menggungat (GSM) yang sedang berjuang melawan tambang batubara yang merajalela di Samarinda. Aktifis GSM berhalangan hadir, sehingga hanya bisa menitipkan kertas posisi untuk presiden terpilih, sebagai bahan pertimbangan untuk menyikapi penambangan batubara di samarinda yang meresahkan masyarakat.

Menurut Widodo, setelah mendengar keluhan mereka, Jokowi mengaku sudah mendengar permasalahan yang dihadapi mereka. “Sikap saya akan saya sampaikan setelah dilantik,” kata Jokowi seperti ditirukan Widodo.

Menurut Jokowi, perlu ada pembenahan di Badan Pertanahan Nasional. Di Jakarta kasus agraria juga jumlahnya ribuan dan perlu ditangani segera.