Suhu Gunung Slamet

KEBUMEN – Tingginya sedimentasi di Waduk Sempor dikhawatirkan akan membuat waduk tersebut hilang. Untuk menanggulanginya, pemerintah diminta untuk segera menormalisasi waduk tersebut karena sangat dibutuhkan untuk pertanian.

“Volume air kini sudah menyusut tajam dibandingkan pada saat awal waduk dibangun tahun 1978,” kata anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah, Eddy Wahono, Kamis (11/9).

Ia mengatakan, tahun 1978 volume waduk mencapai 52 juta meter kubik dan bisa mengairi sawah irigasi hingga 6.500 hektare. Namun, saat ini volume waduk diperkirakan tinggal 14 juta meter kubik dan hanya bisa mengairi 4.000 hektare lahan sawah.

Menurut dia, jika musim kemarau sawah di kecamatan Sempor, Gombong, Karanganyar, Kuwarasan, Buayan, Rowokele dan Sruweng mengalami kekeringan karena kekurangan pasokan air. Ia menambahkan, untuk mensuplai lahan pertanian sawah 6,500 hektare dibutuhkan volume air 28 juta meter kubik.

Dampak berkurangnya volume tampungan bendung juga menyebabkan lumpuhnya PLTA Waduk Sempor dan suplai air minum untuk kota Gombong, Karanganyar dan Kebumen akan mengalami penurunan. Ia menyarankan, selain normalisasi waduk, Bendung Pengendali Sedimen Kedungringin juga harus direhabilitasi. “Bendung ini penting untuk mengurangi laju sedimentasi,” katanya.

Tak hanya di Sempor, waduk Mrica di Banjarnegara juha harus dinormalisasi. Bahkan, saat musim kemarau seperti saat ini, beberapa bagian Waduk Mrica berubah menjadi dataran. Hal ini dikarenakan sedimentasi pada waduk tersebut sudah mencapai sekitar 30 persen.

Direktur PT Indonesia Power UPB Mrica Suparlan mengatakan, jika dibiarkan terus, sedimentasi ini tentu akan menimbulkan persoalan, karena dapat mengganggu pergerakan turbin. Dia juga mengakui kalau endapan ini dipicu dari dua alur sungai. Yaitu Serayu yang memiliki hulu di kawasan Dieng dan Mrawu di daerah Pejawaran. Sumbangan lumpur dari dua sungai ini nyaris sama.

Guna menekan hal ini upaya penghijauan di DAS Serayu maupun Mrawu mesti terus dilakukan. Ia mengatakan saat ini langkah yang tepat adalah menggandeng masyarakat di daerah hulu. Caranya dengan membuat sekolah lapang. “Sekolah lapang ini melatih masyarakat untuk menanam tanaman keras yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti kopi arabika dan robusta,” katanya.

Selain itu, desain waduk juga sudah dibuat sedemikian rupa agar pepngaturan air tetap terjaga, termasuk adanya target ketinggian air dan penyesuaian produksi listrik. “Berpengaruh iya, tetapi tidak signifikan, karena kondisi kemarau ini, debit air menjadi 30 sampai 40 meter kubik per detik. Sementara saat normal bisa mencapai 100 hingga 400 meter kubik per detik. Bahkan saat hujan deras di wilayah hulu, bisa menembus 700 meter kubik per detik,” ujarnya.