wabup duduk di belakang hendak coba paralayang motor
Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah mengecam Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang melakukan kunjungan ke luar negeri bersama dengan puluhan pejabat SKPD setempat. Kunjungan seperti itu menurut Ronny Maryanto, Divisi Korupsi Politik dan Anggaran KP2KKN Jawa Tengah tidak mencerminkan perilaku pejabat yang efisien dan efektif dalam menggunakan uang rakyat.

“Saat warga Jawa Tengah banyak yang kesulitan mencari makan tapi malah ada jatah anggaran Rp 2,3 miliar untuk kunjungan itu. Kami tidak anti terhadap kunjungan ke luar negeri tapi jika bentuknya seperti menghambur-hamburkan uang rakyat maka harus ditolak keras,” kata Ronny di Semarang, Senin (28/9).

Anggaran kunjungan yang besar itu sangat kontras dengan situasi di Jawa Tengah. Data terbaru di BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin atau di bawah garis kemiskinan justru bertambah 15.210 orang. Pada September 2014 penduduk miskin sebanyak 4,562 juta orang tapi tahun ini bertambah menjadi 4,577 juta orang. “Ganjar juga mesti merealisasikan janji-janji kampanyenya, bukannya malah bedol desa mengajak puluhan pejabat ke luar negeri,” tambahnya.

Sebanyak 21 pejabat ditambah belasan bisnisman dan akademisi di Jawa Tengah ramai-ramai berkunjung ke luar negeri, yakni ke Suriname, Belanda dan Jerman. Rombongan yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu di luar negeri selama 13 hari berangkat mulai Minggu 27 September 2015 hingga Jumat 9 Oktober 2015.

Pihaknya merasa heran kenapa dalam kunjungan itu Ganjar dan Ketua DPRD Jawa Tengah juga mengajak istri masing-masing. Jika kunjungan ini adalah untuk meningkatkan kinerja dan promosi Jawa Tengah, lalu apa kapasitas seorang istri ikut kunjungan kerja. “Kami juga mengecam tindakan Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi yang ikut-ikutan kunjungan itu. Harusnya legislatif itu mengontrol eksekutif tapi Rukma malah tergiur ikut kunjungan dan parahnya, istri Rukma ikut dalam rombongan tersebut,” beber Ronny.

Ia menilai kunjungan kerja itu lebih banyak acara-acara seremonial. Dulu Ganjar berjanji melakukan efektifitas kinerja dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Tapi kini ia justru melakukan kunjungan kerja yang berlebih-lebihan. Selain efektifitas kunjungan ini untuk bisa memperbaiki Jawa Tengah juga sangat diragukan. Selama di Belanda, Ganjar akan kerjasama soal museum bangunan tua.